Selamat Datang di Buletin Konservasi Kepala Burung (Bird's Head) Blog "sebuah Blog yang berisi artikel-artikel seputar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dan merupakan media informasi, komunikasi, sosialisasi antar sesama rimbawan dalam menegakkan panji-panji Konservasi..."
Bagi Bapak/Ibu/Sdr/Sdri/Rekan-Rekan Sekalian yang ingin menyampaikan artikelnya seputar Konservasi atau ingin ditampilkan pada Blog ini, dapat mengirim artikel tersebut ke Email Tim Redaksi Buletin : buletinkepalaburung@gmail.com atau ke Operator atas nama Dony Yansyah : dony.yansyah@gmail.com

Senin, 27 Desember 2010

TWA GUNUNG MEJA "AYAMFOS" KOTA MANOKWARI (Edisi 4 2009)

Kondisi Umum
Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Meja secara georafis terletak pada koordinat 134°03'17" sampai 134°04'05" Bujur Timur dan 0°51'29" sampai 0°52'59" Lintang Selatan dengan luas kawasan adalah 460,25 ha. Kawasan ini terletak pada bagian Utara Pusat Kota Manokwari dengan jarak ± 3 km, untuk mencapai kawasan ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat. Dalam kawasan terdapat jalan beraspal sepanjang 7 km yang membelah kawasan dari arah Barat (Asrama mahasiswa Unipa) ke arah timur tenggara kawasan (Komplek Sarinah-Kelurahan Manokwari Timur) dan jalan lingkar Anggori - Pasir Putih-Amban sejauh 24 km. Secara administrasi TWA Gunung Meja terletak di Kecamatan Manokwari, Kabupaten Manokwari-Papua Barat. 

TWA Gunung Meja berada pada ketinggian 16-210 m dpl dengan topografi bervariasi dari datar hingga bergelombang ringan ke arah Timur dan bergelombang berat dari Timur ke arah Barat dengan puncak tertinggi (puncak Bonay) ± 210 meter dpl.  Sedangkan, pada sisi bagian Selatan dan Utara terdapat beberapa tempat yang bertebing karang terjal dan lereng yang curam. Pada puncak terdapat daerah yang memiliki relief kecil hampir datar menyerupai permukaan meja.  Karena bentuk fisiograti lahan yang demikian, sehingga kawasan ini dinamakan Gunung Meja (Tafelberg). Fisiografi lahan dengan tebing karang terjal dan berteras pada sisi sebelah Selatan ke Barat Laut kawasan merupakan wilayah penyebaran sumber mata air. 

Kawasan Gunung Meja secara Lithostratigarfi termasuk dalam strata Formasi Manokwari (formasi befoor). Formasi ini terdiri dari batu gamping terumbu, sedikit biomikrit, kasidurit dan kalkarenit mengandung ganggang dan foraminitera. Jenis tanah yang dominan adalah tanah kapur kemerahan dan tanah endapan aluvial. Leppe D dan Tokede MJ. 2008, menggolongkan jenis tanah di kawasan TWA Gunung Meja dalam empat jenis yang umumnya memiliki lapisan tanah atas (top soil) yang sangat tipis yaitu < 30 cm. Keempat jenis tanah tersebut adalah tanah liat, tanah kapur, tanah berbatu dan tanah berkarang. Berdasarkan sifat kimia tanahnya, tanah di kawasan TWA Gunung Meja termasuk kelompok tanah marjinal, karena kandungan kimia tanah berkisar antara sangat rendah sampai tinggi.

Sejarah
Hutan Gunung Meja ditetapkan sebagai kawasan konservasi sejak jaman Pemerintahan Hindian Belanda. Gagasan itu berawal pada bulan Agustus 1953, yaitu saat kunjungan Tim Kehutanan Pemerintah Hindia Belanda, yang terdiri dari : Ir. J.F.V.Zieck (Kepala Seksi Inventarisasi Hutan); Ir. J. Fokkinga (Ketua Komisi Pertanian) dan H. Schrijn (Kepala Pemangkuhan Hutan) ke Gunung Meja. Pada saat itu, disepakati bahwa areal hutan primer seluas 100 ha dan hutan sekunder seluas 360 ha termasuk jurang dan tebing-tebing karang yang ada diusulkan sebagai hutan lindung dengan fungsi utama pengatur tata air (Hidroorologi).

Untuk mendukung kesepakatan tersebut pada tahun 1954 dilakukan inventarisasi hutan primer seluas 100 ha, dan pada tahun 1956 dan 1957 mencapai 360 ha pada. Selain itu juga dilakukan survey tanah dan analisis vegatasi untuk jenis-jenis pohon yang mencapai diameter 35 cm dengan intensitas sampling 10 % oleh Jance Ainusi (pengenal jenis lokal) dan Ir. Faber (ahli botani Belanda).

Dalam rangka pemanfaatan fungsi hidroorologis tersebut, pada tahun 1957 Perusahaan Air Minum (PDAM) Manokwari menggagas untuk memasang pipa dari sumber mata air di Gunung Meja ke daerah Kuawi dan Fanindi Unjung (Surat PDAM Manokwari nomor 574 tanggal 4 Maret 1957). Kemudian dengan pertimbangan letak dan jarak dari pusat Kota Manokwari yang sangat dekat, Pemerintah Hindia Belanda mengembangkan aneka fungsi hutan Lindung Gunung Meja sebagai berikut:
1. Fungsi pendidikan dan pelatihan di bidang kehutanan
2. Fungsi penelitian
3. Taman Hutan/Botanical Garden
4. Tempat rekreasi untuk masyarakat kota Manokwari.
Selain aneka fungsi tersebut pada tahun 1959, Pemerintah Hindia Belanda juga mendorong kawasan Hutan Lindung Hidrologis Gunung Meja untuk perlindungan satwa (Surat Kepala Seksi Pemangkuan Hutan nomor 6486/99, tanggal September 1959, tentang Monumen Alam Hutan Lindung Gunung Meja). Namun demikian pengelolaan aneka fungsi Hutan Lindung Gunung Meja tersebut belum sempat terwujud, karena situasi politik yang mengharuskan pemerintah Hindia Belanda untuk meninggalkan Nederland Neuw Guinea (Tanah Papua) dan menyerahkan kekuasaannya di Tanah Papua (termasuk pengelolaan Hutan Lindung Gunung Meja) ke Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1963. Kemudian Pemerintah Republik Indonesia mempercayakan kepada Provinsi Irian Barat. 

Kemudian pada tahun 1980 sampai sekarang dengan tetap memperhatikan fungsi hidroorologinya Pemerintah Republik Indonesia menunjuk Hutan Lindung Gunung Meja sebagai Hutan Wisata dengan luas 500 Ha (SK Menteri Pertanian nomor 19/Kpts/Um.1/1980 tanggal 12 Januari 1980). Sejak saat ini TWA Gunung Meja dikelola oleh Resort KSDA Manokwari, Sub Balai KSDA Papua I, Balai KSDA VIII Ambon yang sekarang menjadi Resort KSDA Gunung Meja, Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Bintuni, Bidang KSDA Wilayah II Fakfak, Balai Besar KSDA Papua Barat.

Sejak tahun 1980 sampai sekarang, berbagai penelitian ilmiah telah banyak dilakukan, baik yang dikerjakan oleh Balai KSDA sendiri selaku pengelola maupun yang dilakukan oleh instansi terkait, perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat. Beberapa instansi terkait yang pernah melakukan kegiatan survey dan penelitian di dalam kawasan TWA Gunung Meja antara lain: Balai Penelitian Kehutanan Manokwari, Universitas Negeri Papua (UNIPA) dan NRM. 

Hidrologi
Kawasan TWA Gunung Meja memiliki ± 30 mata air berupa gua-gua dan mata air yang tersebar di dalam dan sekitar kawasan (Zieck, 1960). Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Manokwari melaporkan bahwa sebanyak 12 mata air yang dijadikan sumber pasokan air bagi masyarakat kota Manokwari dan 7 diantaranya terdapat di dalam dan sekitar TWA Gunung Meja. Mata air ini sebagian besar berada di kaki lereng sisi sebelah Selatan. Sumber air yang dimanfaatkan oleh PDAM mampu memasok 10,30 % dari total kebutuhan air PDAM Manokwari. 

Berdasarkan data NRM, rata-rata tegakan hutan TWA Gunung Meja mampu mampu menyimpan air 3.5892 ton/ha. Jika dikalikan dengan luas kawasan maka, TWA Gunung Meja seluas 460,25 ha mampu menyimpan air sebanyak 1649,0297 ton air, yang akan dikeluarkan pada setiap mata air sepanjang tahun. 

Sosial Ekonomi Budaya
Kawasan TWA Gunung Meja secara administratif berbatasan langsung dengan 4 wilayah kelurahan, yaitu Kelurahan Amban, Kelurahan Padarmi, Kelurahan Manokwari Timur dan Kelurahan Pasir Putih. Penduduk yang bermukim di keempat kelurahan tersebut sampai tahun 2007 berjumlah 28.795 jiwa.

Etnik yang bermukim pada kampung-kampung tersebut umumnya campuran etnik asli Manokwari dan etnik pendatang. Etnik penduduk asli terutama dari suku Mole, Hatam, Sough dan Meyakh. Sedangkan etnik pendatang atau urban umumnya berasal dari Sorong, Biak, Serui serta pendatang dari luar, yaitu dari Makasar, Ambon, Buton Timur dan Sumatera (Potret Taman Wisata Alam Gunung Meja Manokwari. 2004).

Bentuk-bentuk interaksi yang terjadi di dalam dan di sekitar kawasan TWA Gunung Meja, adalah perladangan/kebun masayarakat, pengambilan kayu bakar, pengambilan hasil hutan kayu dan non kayu, perburuan, pengambilan tanah (top soil), pengambilan batu-batu; arang, pemukiman penduduk dan bangunan fisik lainnya.

Kawasan Gunung Meja berdasarkan filosofi budaya masyarakat Afrak, yaitu kelompok suku Hatam dan Suku Sough yang bermukim di sekitar kawasan, memandang Hutan Gunung Meja sebagai AYAMFOS yang artinya dapur hidup. Ayamfos yang berarti Hutan Gunung Meja baik berupa tanah, air dan hutan yang terkandung di dalamnya merupakan sumber penghidupan masyarakat yang perlu dijaga, dilindungi dan dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat dalam kehidupannya. Hutan Gunung Meja “Ayamfos” berfungsi sebagai tempat berkebun, sumber protein nabati dan hewani dalam pemenuhan kehidupan masyarakat sehari-hari, sumber air barsih bagi kehidupan masyarakat, tempat melakukan usaha-usaha ekonomi pertanian dan juga situs budaya “tanah larangan/tempat pamali bagi masyarakat (Potret Taman Wisata Alam  Gunung Meja Manokwari. 2004).

Sumber :
  • Anonim. 2004. Potret Taman Wisata Alam Gunung Meja Manokwari. NRM. Manokwari.
  • Anonim. 2008. Rencana Pengelolaan Jangka Panjang TWA Gunung Meja Tahun 2009-2024, Balai Besar KSDA Papua Barat. Sorong.
  • Leppe D dan Tokede MJ. 2008. Potensi Biofisik Taman Wisata Alam Gunung Meja. Balai Penelitian Kehutanan Manokwari. Manokwari.

1 komentar:

  1. Hari ini saya ingin mengunkapkan tentang perjalanan hidup saya,karna masalah ekonomi saya selalu dililit hutang bahkan perusahaan yang dulunya saya pernah bagun kini semuanya akan disitah oleh pihak bank,saya sudah berusaha kesana kemari untuk mencari uang agar perusahaan saya tidak jadi disitah oleh pihak bank dan akhirnya saya nekat untuk mendatangi paranormal yang terkenal bahkan saya pernah mengikuti penggandaan uang dimaskanjeng dan itupun juga tidak ada hasil yang memuaskan dan saya hampir putus asa,,akhirnya ketidak segajaan saya mendengar cerita orang orang bahwa ada paranormal yang terkenal bisa mengeluarkan uang ghaib atau sejenisnya pesugihan putih yang namanya Mbah Rawa Gumpala,,,akhirnya saya mencoba menhubungi beliau dan alhamdulillah dengan senan hati beliau mau membantu saya untuk mengeluarkan pesugihan uang ghaibnya sebesar 10 M saya sangat bersyukur dan berterimakasih banyak kepada Mbah Rawa Gumpala berkat bantuannya semua masalah saya bisa teratasi dan semua hutang2 saya juga sudah pada lunas semua,,bagi anda yang ingin seperti saya dan ingin dibabtu sama Mbah silahkan hubungi 085 316 106 111 saya sengaja menulis pesan ini dan mempostin di semua tempat agar anda semua tau kalau ada paranormal yang bisah dipercaya dan bisa diandalkan.untuk lebih lengkapnya buka saja blok Mbah karna didalam bloknya semuanya sudah dijelaskan PESUGIHAN DANA GHAIB TANPA TUMBAL

    BalasHapus