Selamat Datang di Buletin Konservasi Kepala Burung (Bird's Head) Blog "sebuah Blog yang berisi artikel-artikel seputar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dan merupakan media informasi, komunikasi, sosialisasi antar sesama rimbawan dalam menegakkan panji-panji Konservasi..."
Bagi Bapak/Ibu/Sdr/Sdri/Rekan-Rekan Sekalian yang ingin menyampaikan artikelnya seputar Konservasi atau ingin ditampilkan pada Blog ini, dapat mengirim artikel tersebut ke Email Tim Redaksi Buletin : buletinkepalaburung@gmail.com atau ke Operator atas nama Dony Yansyah : dony.yansyah@gmail.com

Selasa, 22 Februari 2011

Batang-Batang Kayu Dalam Banjir Bandang Wasior (Edisi 8 2010)

Berita bencana banjir bandang Wasior sangat mengejutkan banyak pihak. Pasalnya banjir bandang terjadi pada wilayah yang hutannya masih utuh dengan fungsi hutan sebagai CAGAR ALAM, yaitu Cagar Alam Pegunungan Wondiwoy. Namun demikian banyak kalangan memvonis bahwa penyebab terjadinya banjir bandang tersebut adalah karena penebangan liar, suatu tuduhan yang disandarkan adanya batang-batang kayu yang ikut hanyu bersama meterial lain.

Adakah tuduhan tersebut benar? Jika melihat fungsi hutannya maka tuduhan tersebut sangat naif, jauh dari kebenaran. Karena kawasan cagar alam di dalamnya tidak dapat dilakukan kegiatan apapun kecuali kegiatan penelitian, perlindungan dan pengawetan, peragaan alam untuk pendidikan. Dengan peruntukan seperti itu, maka kawasan hutan di daerah hulu Wasior sangat jauh dari raungan bunyi chain shaw. Dan fakta lapangan memang membuktikan bahwa kondisi hutan di atas Wasior sangat bagus.

Lalu batang-batang kayu tersebut berasal dari mana? Berikut ini kami sampaikan penuturan beberapa ahli yang sempat berkunjung ke lokasi kejadian.

1. Prof Dr Ir Dwikorita Karnawati, M.Sc Guru Besar Geologi Teknik dan Lingkungan UGM dan Ketua Jurusan Teknik Geologi UGM. (biasa disapa dengan  Bu Rita). 
Banjir bandang merupakan suatu proses aliran air yang deras dan pekat karena disertai dengan muatan masif bongkah-bongkah batuan dan tanah (sering pula disertai dengan batang-batang kayu) yang berasal dari arah hulu sungai. Selain berbeda dari segi muatan yang terangkut di dalam aliran air tersebut, banjir bandang ini juga berbeda dibandingkan banjir biasa. Sebab, dalam proses banjir ini, terjadi kenaikan debit air secara tiba-tiba dan cepat meskipun tidak diawali dengan turunnya hujan. 

Banjir ini terjadi umumnya dengan diawali oleh proses pembendungan alamiah di daerah hulu sungai yang berada pada lereng-lereng perbukitan tinggi. Pembendungan alamiah ini sering terjadi sebagai akibat terakumulasinya endapan-endapan tanah dan batuan yang longsor dari bagian atas lereng. Proses pembendungan alamiah ini dapat terjadi secara lebih cepat apabila disertai dengan penumpukan batang-batang kayu yang terseret saat longsor terjadi. 

Bagaimana kita dapat menduga bahwa kayu-kayu yang tertumpuk adalah akibat pembalakan hutan atau akibat pohon-pohon yang tumbang yang terseret saat longsor di bagian atas lereng lembah terjadi. Apabila kayu yang terseret oleh arus banjir bandang ini merupakan kayu gelodongan dengan ukuran teratur dan tampak terpotong secara seragam (tidak disertai adanya akar-akar pohon), tumpukan kayu yang membendung lembah di hulu sungai adalah hasil tebangan pohon oleh manusia. Namun, apabila kayu-kayu yang terseret banyak disertai dengan akar-akar dan ranting-ranting pohon, sangat mungkin bahwa tumpukan kayu-kayu yang membendung hulu sungai terjadi secara alamiah akibat longsor yang menyeret pohon-pohon di permukaan lereng. (Humas UGM/Satria).

2. Dr. Ali Awaludin, dosen Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik (FT) UGM
Dr Ali menuturkan dari kesaksian warga, aliran banjir pada awalnya membawa material pasir atau lumpur. Kemudian, diikuti oleh batang-batang pohon dan terakhir oleh batu-batu besar. Selain itu, berdasarkan hasil pengamatan di lokasi bencana, batang-batang pohon yang ikut hanyut memiliki ukuran sangat besar. Pohon berdiamater 1 meter atau lebih sangat sering dijumpai dengan panjang sekitar 20 meter. Pohon-pohon tersebut saat ditemukan tidak lagi segar tetapi sudah rapuh, seperti telah mati/tumbang beberapa waktu (mungkin tahunan) sebelum banjir terjadi. Pohon-pohon tersebut tampak masih lengkap dengan akar-akarnya. “Penemuan ini tentunya menepiskan dugaan bahwa pembalakan liar adalah penyebab banjir bandang Wasior, 4 Oktober lalu,”

Gambar Dr. Ali Awaludin disamping pohon yang tumbang akibat banjir bandang di Wasior Oktober 2010

Ditambahkan Ali, tumbangnya pohon-pohon di sekitar sungai dapat disebabkan oleh banyak hal, antara lain usia yang sudah mencapai klimaks (usia mati), sakit karena serangan jamur atau rayap, dan tererosinya lapisan tanah di sekitar akar. Pohon-pohon ini kemudian tumbang ke sungai dan membendung aliran air. Fluktuasi level muka air sungai memicu lebih cepat proses pelapukan (perapuhan) batang pohon. Kumulatif penumpukan pohon-pohon yang tumbang ini menyebabkan semakin besar volume air sungai yang terbendung. “Delapan jam sebelum banjir datang, hujan deras mengguyur Wasior dan akhirnya menghancurkan bendung-bendung pohon tersebut, sekaligus menghanyutkannya bersama dengan lumpur, pasir, dan batu-batu besar,” (Humas UGM/Satria)

Sumber:
  • www.ugm.ac.id/liputanberita/10/22/2010/mencari solusi arif bagi wasior pasca banjir bandang, rehabilitasi atau relokasi/ 
  • Http://rovicky.wordpress.com/2010/10/18/banjir-bandang-bagaimana-terjadinya/

Oleh : Muhammad Wahyudi, S.Hut

Belajar dari Banjir Bandang Wasior (Edisi 8 2010)

Flood Assassin (banjir pembunuh) merupakan istilah yang diberikan terhadap kejadian banjir bandang yang terjadi pada tanggal 4 Oktober 2010 di Wasior Kab. Teluk Wondama dengan waktu kejadian yang singkat mampu menelan korban jiwa hingga ratusan orang meninggal dunia dan korban harta benda lainnya ditaksir sekitar Rp 300 miliar. Apa sebenarnya penyebab banjir bandang tersebut ? berikut penjelasannya :

Apakah banjir bandang
Banjir bandang adalah banjir di daerah permukaan rendah yang  isebabkan oleh hujan deras dalam waktu singkat, disebabkan oleh badai yang bergerak lambat, badai berulang kali bergerak atas area yang sama, atau hujan deras dari badai dan badai tropis. Umumnya kejaidan banjir bandang kurang dari 6 jam. Banjir bandang biasanya ditandai dengan aliran air yang deras setelah hujan lebat yang melalui dasar sungai, jalan‐jalan perkotaan, atau ngarai gunung dan menyapu segala sesuatu di depan mereka. Banjir bandang dapat terjadi dalam menit atau beberapa jam dari curah hujan yang berlebihan. Banjir bandang juga dapat terjadi bahkan jika tidak ada hujan sekalipun, misalnya setelah tanggul atau bendungan yang jebol, atau setelah air yang tiba‐tiba dilepaskan oleh puing‐puing atau bongkahan es.

Bagaimana banjir bandang terjadi
Bebarapa faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya banjir bandang. Dua element kunci yaitu insensitas hujan dan durasi hujan. Intensitas adalah jumlah dari curah hujan dan durasi adalah berapa lama hujan terjadi. Selain itu topografi, kondisi tanah dan penutup tanah juga memainkan peranan penting. Banjir bandang terjadi dalam beberapa menit atau beberapa jam dari curah hujan yang berlebihan, kegagalan bendungan atau tanggul, atau pelepasan tiba‐tiba air yang dihasilkan oleh jebakan es. Banjir bandang dapat menggelindingkan batu, mencabut pepohonan, menghancurkan bangunan dan jembatan. Cepatnya air naik dapat mencapai ketinggian 10 meter atau lebih. Selain itu, banjir bandang yang disebabkan hujan juga dapat memicu bencana tanah longsor.

Kejadian Banjir Bandang Wasior
Banjir bandang wasior terjadi pada hari Senin tanggal 4 Oktober 2010 jam 08.30 WIT dengan lokasi di 2 Distrik yaitu Distrik. Wasior (desa. Wasior I, Wasior II, Rado, Moru, Maniwak, Manggurai dan Wondamawi) dan Distrik. Wondiboy (Desa Wondiboy). Akibat/Korban Korban meninggal 95 orang, luka berat 185 orang (125 dirawat RSUD Nabire dan 53 orang RSUD Manokwari, 6 orang di RSAL Manokwari, 1 orang dievakuasi keluar Papua Barat) dan luka ringan 535 orang. Sedangkan korban hilang tercatat 76 orang. Sementara itu, pengungsi yang telah terdata sebanyak 2.129 jiwa (± 1.994 jiwa di Manokwari dan 135 jiwa di Nabire). Kerusakan rumah 31 unit rusak berat/hanyut, sarana kesehatan 1 unit rumah sakit rusak berat, sarana pendidikan 2 unit sekolah rusak berat, jalan 1 ruas rusak berat, jembatan 4 unit rusak berat, dan hotel 1 unit rusak berat.

Letak dan Posisi
Secara administratif lokasi banjir terletak di Kabupaten Teluk Wondama terdiri yang dari 7 distrik dan 53 kampung/desa dengan luas daerah seluruhnya berjumlah 4.996 Km2. Daerah tersebut sebelah utara berbatasan dengan Samudera Pasifik, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Fakfak, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Sorong Selatan dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Paniai. Secara geografis terletak pada posisi koordinat 134o 01' 49”  134o 57' 5” BT dan 1o 58' 27”  3o 00' 32” LS.

Gambar 1. Lokasi Banjir Bandang Wasior

Kondisi Biofisik Lokasi
Lokasi kejadian banjir bandang di Kabupaten Teluk Wondama termasuk dalam daerah aliran sungai (DAS) Sobei dengan luas 48.120,77 hektar yang terbagi menjadi 9 (sembilan) Sub DAS 5 (lima) diantaranya yang terkena dampak banjir yaitu DAS Rado seluas 2.308 ha, DAS Sanduai seluas 2.275 ha, Angris yang luasnya 1.323 ha, DAS Manggurai mencakup 2.065 ha, dan DAS Wanayo seluas 1.638 ha, disamping empat DAS kecil diantara DAS yang lebih besar tersebut (Gambar 2).

Gambar 2. Peta DAS-DAS Pemasok Banjir dan Daerah Kebanjiran 
(Sepanjang Dataran Pinggir Wasior), Sumber Google

Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan adalah setiap campur tangan manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik material maupun spiritual (Arsyad, 1989). Karakteristik penggunaan lahan yang terdapat di DAS Sobei diperoleh dari interpretasi citra Landsat ETM tahun 2006, serta cek lapangan pada bulan Oktober 2010. Berdasarkan hasil interpretasi dan cek lapangan, maka jenis penggunaan lahan di lokasi DAS Sobei sebagian besar didominasi oleh hutan lahan kering primer dengan luasanmencapai 45.294 hektar atau 93,25 % dan kondisinya masih bagus belum ada campur tangan dari manusia karena merupakan kawasan suaka alam terletak di perbukitan dengan lereng yang curam, sementara di bagian bawah umumnya untuk pertanian lahan kering dan sebagian dirubah menjadi pemukiman penduduk. 

Tabel 1. Penggunaan Lahan di DAS Sobei

Kondisi Daerah Tangkapan Air atau DAS
  • Berdasarkan informasi dari pensiunan kehutanan yang mengikuti survey burung tahun 1980‐an mengatakan bahwa jalan rintisan tidak melalui jalur sungai, karena sangat terjal, tetapi mengikuti pungggung bukit. Wilayah yang berat rintisannya adalah DAS Angris.
  • Lebih lanjut diceritakan bahwa kondisi tutupan hutan masih murni tidak terganggu; namun dijumpai pohon tumbang dengan posisi akar di atas. Kondisi tutupan lahan dari foto penerbangan Wasior ‐ Manokwari seperti Gambar 3.
Gambar 3. Kondisi Penutupan Lahan DAS‐DAS di Wasior (Foto: Paimin, Okt. '10) Topografi/Lereng rata-rata

Topografi/Lereng rata‐rata
Topografi merupakan konfigurasi permukaan bumi yang dikontrol oleh kondisi relief permukaan bumi. Relief atau kesan topografi dapat memberikan informasi tentang konfigurasi permukaan bentuk lahan yang dapat ditentukan berdasarkan keadaan morfometriknya. Keadaaan morfometrik dicerminkan oleh kemiringan lereng dan beda tinggi Kondisi topografi daerah banjir bandang yang meliputi keadaan lereng, yaitu: kemiringan lereng daerah monev terdiri dari datar landai sampai sangat curam. Kemiringan lereng akan memiliki pengaruh terhadap kecepatan dan volume limpasan permukaan. Semakin besar kecepatan limpasan permukaan akan semakin curam lereng tersebut, akibatnya air akan sulit untuk meresap kedalam tanah dan akan memperbesar aliran permukaan. Hal ini akan diperparah jika penggunaan lahannya tidak sesuai dengan peruntukannya.

Topografi Das Sobei bergunung dengan lereng terjal, gradien sungai terjal, dan di belakang pemukiman dibatasi bentangan lereng terjal sehingga sungai mengalir di celah perbukitan lereng terjal. Kondisi topografi DAS Sobei sebagian besar terdiri dari topografi curam sekali (25‐40%) dengan luas mencapai 42.604 ha atau 87,32 % dari luas DAS Sobei dan sebagian kecil terutama di muara sungai memiliki topografi landai (0‐8%) seluas 6.187 hektar atau 12,68 % dari luas DAS. Klas kemiringan lereng di DAS Sobei selengkapnya terdapat pada Tabel 2.

Tabel 2. Klas Kemiringan Lereng di DAS Sobei

Geologi & Tanah
Daerah ini dilewati sesar Australia, sehingga kemungkinan banyak terjadi patahan atau tanah ambles, dan tanah longsor seperti spot belakang Gambar 3. Tanah paling dominan adalah jenis Podslik dengan fraksi pasir (kwarsa) yang dominan seperti Gambar 4.
Menurut Kementerian ESDM Morfologi daerah Kabupaten Teluk Wondama dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) satuan morfologi, yaitu :
  1. Satuan Morfologi Perbukitan Terjal, sebagian besar (± 50%) menempati daerah bagian timur (Pegunungan Wondiboi /Daerah Wasior dan sekitarnya) dan sebagian daerah bagian barat. Satuan morfologi ini umumnya disusun oleh satuan batuan malihan, yaitu genes, amfibolit, filit, batusabak, batulanau malih dan batupasir malih. Kemiringan lereng yang membentuk satuan morfologi ini berkisar dari 300 ‐ 650 . Ketinggian satuan morfologi ini berkisar dari 229 m ‐ 2340 m diatas permukaan laut. Sebagian besar satuan morfologi ini merupakan kawasan cagar alam dan swaka marga satwa.
  2. Satuan Morfologi Perbukitan Bergelombang, sebagian besar menempati daerah bagian barat dan utara. Ketinggian satuan morfologi ini berkisar dari 200 m ‐ 614 m di atas permukaan laut. Batuan pembentuk satuan morfologi ini sebagian besar terdiri dari satuan batugamping, batuan malihan, batupasir, batulumpur dan batulanau. Pola aliran yang berkembang adalah dendritik  sub dendritik. Kemiringan lereng berkisar dari 100 ‐ 350 . Sebagian besar satuan morfologi ini merupakan hutan lindung dan hutan produksi.
  3. Satuan Morfologi Dataran, sebagian besar menempati daerah bagian barat, tengah dan daerah pesisir pantai. Batuan pembentuk satuan morfologi ini adalah terdiri dari satuan batuan malihan, satuan batulanau, endapan pantai dan satuan alluvium. Pola aliran yang berkembang adalah dendritik dengan lembah berbentuk huruf “U” yang mencerminkan bahwa tahap erosi sudah mencapai tingkat dewasa. Kondisi Geologi DAS Sobei secara lengkap dapat dilihat dari Tabel 3.
Tabel 3. Kondisi Geologi DAS Sobei Lokasi Banjir Bandang

Gambar 4. Tanah di DAS Sobei

Fungsi Kawasan
Sebagian besar fungsi kawasan di DAS Sobei masuk dalam Cagar Alam Darat yang terkenal dengan Cagar Alam Pegunungan Wondiwoi dengan kondisi vegetasi masih alami, tidak dijumpai adanya penebangan liar. Selengkapnya dapat dilihat di Tabel 4.

Tabel 4 Fungsi Kawasan di DAS Sobei

Analisis Banjir Bandang Wasior
Berdasarkan hasil investigasi dan anlisis di lapangan yang disusun oleh Tim dari kementerian Kehutanan yang terdiri dari Ir. Paimin M.Sc, Ir. Djonli MF, dan Ir. Bowo Heri Satmoko Daerah Kabupaten Teluk Wondama yang dilanda bencana banjir meliputi seluruh dataran sepanjang pantai sekitar Distrik Wasior seperti Gambar 1. Pasokan air banjir berasal dari 9 (Sembilan) daerah tangkapan air atau daerah aliran sungai (DAS) Banjir bandang yang terjadi Wasior tidak hanya air mengalir tetapi aliran air disertai hanyutan material batu yang ukurannya sangat besar dan kayu dengan diameter diatas 50 cm, panjang > 10 meter beserta banir (bonggol batang), serta material tanah dengan dominasi fraksi pasir, bukan lumpur. Air bah beserta material terangkut terjadi dalam waktu singkat yakni sekitar 15 menit meskipun banjir baru surut setelah satu jam sesuai dengan berhentinya air hujan yang jatuh. Dengan luas daerah tangkapan air (DTA) sekitar 1.300  2.300 ha dan hanya didahului hujan satu hari sebelumnya tidak mungkin menghasilkan debit air banjir seperti yang terjadi yang mampu menghanyutkan batu besar, batang pohon panjang berbanir. Diduga debit air banjir merupakan jumlah air banjir normal ditambah akumulasi limpasan yang tertahan oleh sumbatan palung sungai akibat tanah longsor (banjir ekstrem) seperti yang terjadi antara lain di Panti, Jember, Jawa Timur, dan Bohorok, Sumatera Utara.

Wilayah Wasior dilewati sesar Australia, sehingga banyak terjadi patahan atau tanah ambles ehingga secara umum rentan terhadap tanah longsor. Lereng sungai yang terjal dengan lapisan tanah tebal mudal longsor, walaupun bervegetasi hutan, karena akar pohon tidak mencapai batuan sehingga terbawa gerakan tanah ke bawah tanpa tahanan. Bahan longsoran dari tebing akan menyumbat palung sungai sehingga limpasan air dari hulu sumbatan akan tertahan dan terakumulasi. Proses penyumbatan tidak hanya Oleh tanah longsor tetapi juga oleh pohon tumbang karena umur tua, oleh angin atau terbawa tanah longsor, seperti diceritakan oleh surveyor burung tahun 1980‐an. Selama penggenangan maka tebing yang terendam tanahnya menjadi jenuh dan tidak stabil sehinggga tanah longsor dan pohon tumbang dan terendam.

Akibat hujan yang terus menerus maka sumbat palung sungai tidak kuat menahan akumlasi air sehingga jebol dan mengakibatkan banjir bandang seperti air ditumpahkan. Gradien sungai yang terjal mendorong aliran air banjir berjalan sangat cepat sehingga tenaga perusak yang dihasilkan sangat besar. Dalam perjalanan alirannya maka kayu yang terendam tanah penyumbat terhanyut oleh aliran yang sangat besar. Selama dalam perjalanan alirannya maka batu yang berda di dasar sungai dan di tebing sungai ikut terseret gelombang aliran air. Disamping itu aliran yang deras juga akan menggerus tebing sungai sehingga tanah batu dan pohon di tebing sungai ikut terhanyut. Hipotesis ini dikuatkan dengan tanda atau indikator atau bukti lapangan sebagai berikut:
  1. Endapan pasir menunjukkan lapisan tanah yang terbawa banjir tidak hanya lapisan atas tetapi juga lapisan bawah berupa pasir kwarsa.
  2. Kayu yang besar, panjang, berbanir, dan terkelupas kulitnya sebagai tanda pohon yang tumbang beserta akarnya dan terendam cukup lama. Pohon yang masih kelihatan lebih segar merupakan pohon yang terhanyut aliran banjir sepanjang sungai.
  3. Dorongan tumpahan yang besar mendorong batu yang besarpun ikut terhanyut.
  4. Tumpahan air yang tinggi dibarengi material terangkut sehingga dimensi sungai tidak muat sehingga menjadi aliran liar mengikuti kondisi alami yang ada. Jembatan yang tersumbat oleh kayu maupun batu membuat aliran banjir menjadi meluas.
  5. Terseretnya kayu besar dan batu besar jauh dari mulut sungai menunjukkanbesarnya kecepatan aliran meskipun gradien aliran berubah lebih datar dan dimensi adan aliran lebih luas.
  6. Berdasarkan bukti lapangan tersebut maka kemungkinan terjadinya banjir bandang di Wasior akibat multi proses tanah longsor, sumbatan, tampungan air, banjir normal dan dam jebol.
Hubungan Banjir Bandang Dengan Illegal Logging
  • Kondisi penutupan lahan di semua DAS tidak berbeda yakni masih dalam tutupan vegetasi alami yang rapat.
  • Kondisi alami bentang alam yang ada menyulikan para pencuri kayu mencapai lokasi dan tidak memungkinkan pengangkutan kayu hasil tebangan (akses sulit).
  • Andaikan terjadi pencurian kayu hanya di bukit belakang pemukiman yang secara teknis tidak mempengaruhi banjir. Tapi dari observasi lapangan pencurian kayu pada bentangan bukit ini tidak nampak.
  • Kondisi tutupan lahan yang tidak berbeda tetapi menghasilkan banjir dengan material terangkut yang berbeda. Banjir dari sungai yang berasal DAS Rado, Sanduai, Angris, dan Manggurai menunjukkan banjir ekstrem dengan membawa material batu besar, pohon besar utuh, dan material pasir, sehingga menyumbat jembatan; sedangkan banjir dari DAS Wanayo merupakanbanjir normal hanya mengangkut batu dan kayu kecil tanpa menyumbat jembatan dan merusak daerah sekitar (Gambar 5).
  • Apabila illegal logging dikaitkan dengan pengusahaan hutan, maka konsesi Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang terdekat adalah PT Dharma Sakti Persada yang jaraknya sekitar 100 km dari lokasi banjir dan tidak ada akses ke lokasi banjir.
  • Dengan demikian banjir yang terjadi bukan karena illegal logging tetapi karena bentuk banjir ekstrem yang terjadi tidak hanya akibat curah hujan yang tinggi tetapi ada tambahan tenaga lain selain limpasan dari hujan yang terjadi saat tersebut.
Saran Tindak Lanjut
Saran tindakan ke depan dipilah antara tidakan pada daerah pemasok air banjir dan daerah yang terkena banjir. Pemilahan agar lebih bisa memudahkan pemahaman peran bagi setiap institusi terkait.
1. Tindakan pada Daerah Pemasok Air Banjir
Keadaan daerah pemasok air banjir atau daerah tangkapan air (catchment area) didominsi oleh kawasan cagar alam dan pelestarian alam yang dalam keadaan belum terganggu atau masih murni. Untuk mengurangi kemungkinan terulangnya multi proses banjir dan tampungan air limpasan di daerah tangkapan air, tindakan ke depan yang diperlukan adalah:
  • Pemetaan daerah rawan longsor pada kawasan hutan konservasi.
  • Inspeksi rutin jalur sungai terhadap kemungkinan terjadinya penyumbatan palung sungai, baik oleh pohon tumbang maupun oleh tanah longsor dari tebing sungai.
  • Pengendalian tanah longsor pada tebing sungai utama.
  • Penanaman kembali areal kosong (apabila ada) sesuai asas fungsi kawasan yang bersangkutan.
2. Tindakan pada Daerah Kebanjiran
Berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan menunjukkan bahwa sungai‐sungai yang mengalir ke daerah sepanjang pantai Wasior sering banjir dan airnya meluap ke pemukiman sekitar sungai. Hal ini terlihat juga pada sungai Wanayo yang ketika terjadi pada tanggal 10 Oktober 2010 air melipah ke areal sekitar. Disamping itu tebing perbukitan di belakang pemukiman Wasior cukup terjal dan rawan terhadap tanah longsor, termasuk di belakang kantor pmerintahan Kabupaten Wasior. Berdasarkan kondisi tersebut maka tindakan pencegahan bencana banjir ke depan meliputi:
  • Peningkatan dimensi palung sungai sehingga mampu menampung air banjir puncak yang mungkin terjadi (peak run off). Hal ini dapat dilakukan dengan pembuatan tanggul sungai mulai mulut sungai di perbukitan sampai ke pantai.
  • Pembuatan tanaman jalur sekat di belakang pemukiman Wasior mulai dari kaki bukit hingga jarak 100m. Jalur sekat merupakan hutan lindung dengan jenis tanaman setempat yang meiliki sifat perakaran dalam dan daur panjang ditanam pada jarak relatif rapat secara selang‐seling (zig‐zag).
Sumber Pustaka
Laporan Investigasi dari Tim Kementerian Kehutanan Untuk Banjir Bandang Wasior dengan anggota :
  1. Ir. Djonli, MF, KaSubDit Pengembangan Kelembagaan Pengelolaan DAS, Dit Pengelolaan DAS, DitJen BPDASPS.
  2. Ir. Paimin, MSc, Peneliti Madya, Balai Penelitian Kehutanan Solo, Badan Litbang Kehutanan.
  3. Ir. Bowo Heri Satmoko, KaSubDit Penggunaan Kawasan Hutan Wilayah II, DitJen Planologi.
  4. Ir. Mintarjo, MMA, KaBag TU Pimpinan, Biro Umum.
  5. Dani Gunawan, Staf SubBag Protokol, Biro Umum.
Oleh : Muhammad Hendy Noordianto, S.Si (BPDAS Remu-Ransiki)

Wasior (Edisi 8 2010)

Wasior adalah satu dari tiga kecamatan di Kabupaten Teluk Wondama, yang ditetapkan sebagai ibukota kabupaten.  Pada bencana banjir bandang awal bulan Oktober yang lalu Kota Wasior mengalami kerusakan paling parah. Banjir bandang tidak hanya membawa duka yang dalam, tetapi juga polemik yang berkenjangan antara pemerintah dan LSM mengenai penyebab datangnya banjir bandang. Beberapa LSM memberikan komentar bahwa banjir disebabkan oleh adanya pembalakan liar, sementara pemerintah menepis bahwa banjir disebabkan oleh curah hujan yang ekstrim. 

Mana yang benar? Tentunya perlu kajian ilmiah yang mendukung masing-masing pernyataan itu, agar pernyataan akurat, tepat dan tidak hanya gosip semata. Intinya setiap pernyataan perlu dukungan data akurat dan aktual, sesuai dengan lokasi kejadian. Sehingga tidak ada pernyataan tanpa data, terlebih hanya prasangka belaka. Atau menggunakan data tempat lain untuk mendukung pernyata pada tempat yang berbeda. Jika tidak punya data, tentunya tidak perlu mengeluarkan pernyataan, karena hal ini akan berakibat fatal bagi semuanya. Tidak saja bagi pemerintah dan masyarakat, tetapi juga bagi Si pengeluar pernyataan itu sendiri. Masyarakat akan dibuat bingung oleh banyak pernyataan yang semua tanpa dasar, yang berakibat pada hilangnya kepercaan kepada pemerintah. 

Berkaitan dengan banjir bandang Wasior, pemerintah telah melakukan langkah nyata, membentuk tim investigasi untuk mengumpulkan data lapangan, menganalisa, menyimpulkan dan akhirnya keluar pernyataan. Artinya apa? Artinya adalah pernyataan pemerintah telah didukung oleh bukti lapangan yang akurat, terkini (aktual) dan sesuai lokasi kejadian dan tentunya lebih terpercanya. 

Hal ini bukan berarti bahwa tidak boleh percaya dengan pendapat yang lain, atau memaksakan adanya satu pendapat saja. Tetapi hendaknya kita tidak tergesa-gesa untuk mengeluarkan pernyataan, jika kita tidak punya data dan menguasai lokasi. Apalagi pernyataan itu berkaitan erat dengan masyarakat. Dan atas setiap berita atau pernyataan yang kita terima hendanya selalu kita lakukan  tabayyun (penelitian), adakah pernyataan itu benar ataukan hanya sekedar mencari sensasi, ataukah hanya sekedar kelakar. Sehingga semua kita tidak akan terbawa arus oleh pernyataan-pernyataan yang ujung-ujung hanya untuk kepentingan pribadi dan sensasi. 

Akhirnnya mari kita ingat pepatah, “Jangan Memancing Di Air Yang Keruh”. Masih banyak yang perlu kita perbuat untuk memulihkan keadaan di Wasior pasca banjir bandang.

Minggu, 20 Februari 2011

Mengenal Taman Wisata Alam Sorong Lebih Dekat (Edisi 7 2010)

Sorong, Daerah TK I Irian Jaya Barat sebagai Kawasan Hutan dengan fungsi sebagai Taman Wisata. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian tersebut kawasan hutan ini diberi nama Taman Wisata Sorong. Kemudian berdasarkan UU Nomor 5 tahun 1990 ada perubahan istilah Taman Wisata menjadi Taman Wisata Alam, sehingga penamaan Taman Wisata Sorong ini berubah menjadi Taman Wisata Alam Sorong.

Dalam perjalanannya TWA Sorong yang semula dikelola oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Sorong beralih pengelolaannya kepada Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelastarian Alam, Departemen Kehutanan, yang saat ini dikelola oleh Balai Besar KSDA Papua Barat.

Potensi Biofisik
Daerah TWA Sorong termasuk dalam iklim tropika basah dengan curah hujan tahunan rata-rata 3.066 mm dan rata-rata jumlah hari hujan 193,3 hari pertahun. Daerah ini termasuk tipe iklim A dengan nilai Q = 15,5 %.

Keadaan topografi kawasan TWA. Sorong sebagian besar bergelombang sedang sampai berat. Di dalam kawasan ini terdapat beberapa sungai, antara lain: sungai Klawulu, Sungai Klasege, Sungai Pletok dan Sungai Klabeling. Geologi kawasan ini tersusun atas batuan sedimen Neogen dengan jenis tanah utama Podsolit.

Kawasan TWA Sorong merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan dataran rendah dan di dalamnya terdapat hutan tanaman Damar (Agathis labilardieri) dan Aracauria spp. yang tertata cukup rapih. Dalam kawasan ini tercatat 53 jenis vegetasi berkayu yang biasa tumbuh pada hutan dataran rendah, seperti; matoa (Pometia sp), merbau (Instia bijuga), medang, angsana, amugia, lansat, cempedak, rambutan, mangga dll.

Beberapa jenis satwa yang terkadang masih dijumpai dalam kawasan hutan wisata ini antara lain: kakatua putih jambul kuning (Cacatua galerita triton), nuri merah kepala  hitam (Lorius lory), rusa (Cervus timorensis), kus-kus pohon (Dendrolagus sp).

Potensi Wisata Alam
TWA Sorong juga menyimpan potensi wisata alam yang cukup tinggi. Beberapa obyek wisata alam yang cukup potensial untuk dikembangkan adalah tegakan kebun benih Damar (Agathis labilardieri) yang memiliki nilai sejarah kawasan, satwa endemik papua dari berbagai jenis burung, dan air terjun.

Aksesibilitas
TWA Sorong terletak di Kota Sorong, tepatnya di km 14 jalan Sorong  Klamono. Dari pusat kota TWA Sorong dapat dijangkau dalam waktu sekitar 15-30 menit dengan menggunakan sepeda motor atau mobil. 

Akomodasi
Fasilitas pengelolaan kawasan yang tersedia,antara lain: pos jaga, barak Polhut, Laboratorium penangkaran buaya, dan selter. Sementara di kota Sorong sendiri fasilitas penginapan cukup tersedia dan bervariasi mulai dari Hotel kelas melati sampai hotel bintang III.

Nilai Penting 
a. Merupakan satu-satunya kawasan hutan yang masih terjaga di Kota Sorong.
b. Merupakan sistem penyangga kehidupan, daerah produksi oksigen.
c. Daerah tangkapan air bagi sungai-sungai yang mengalir di dalamnya.

MAKSUD DAN TUJUAN
MAKSUD : sebagai acuan umum dan landasan para pihak yang berkepentingan dalam pelaksanaan kolaborasi untuk membantu meningkatkan efektivitas dan kemanfaatan pengelolaan KSA dan KPA bagi kesejahteraan masyarakat.
TUJUAN : terwujudnya visi, misi, dan langkah strategis dalam mendukung, memperkuat dan meningkatkan pengelolaan KSA dan KPA sesuai dengan kondisi, sosial, budaya dan aspirasi setempat.

PENGERTIAN PENTING
KOLABORASI PENGELOLAAN KSA DAN KPA : pelaksanaan suatu kegiatan atau penanganan suatu masalah dalam rangka membantu meningkatkan efetifitas pengelolaan KSA dan KPA secara bersama dan sinergis oleh para pihak atas dasar kesepahaman dan kesepakatan bersama sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

KOLABORASI DALAM RANGKA PENGELOLAAN KSA DAN KPA : proses kerjasama yang dilakukan oleh para pihak yang bersepakat atas dasar prinsip-prinsip saling menghormati, saling menghargai, saling percaya dan saling memberikan kemanfaatan.

PARA PIHAK : semua pihak yang memiliki minat, kepedulian atau kepentingan dengan upaya konservasi KSA dan KPA, antara lain Pemerintah dan Pemda (eksekutif dan legislatif), Masyarakat Setempat, LSM, BUMN/BUMD/BUMS, perorangan, masyarakat internasional, Perguruan Tinggi/Lembaga Pendidikan/Lembaga Ilmiah.

MASYARAKAT SETEMPAT : kesatuan komunitas sosial yang terdiri dari warga negara kesatuan RI yang tinggal di dalam dan atau sekitar KSA dan KPA,


BURUNG GAGAK (Hewan Paling Cerdas) (Edisi 7 2010)

Burung Gagak adalah anggota burung pengicau (Passeriformes) yang termasuk dalam marga Corvus, suku Corvidae. Hampir semua jenis burung ini berukuran relatif besar dan berwarna bulu dominan hitam. Daerah sebarannya ada di seluruh benua dan kepulauan, dengan perkecualian di Amerika Selatan.

Kerajaan
:
Filum
:
Kelas
:
Ordo
:
Famili
:
Genus
:
Corvus Linnaeus, 1758
Secara umum burung ini masih mudah ditemui, dan berdasarkan PP nomor 7 tahun 1998, janis gagak belum masuk dalam daftar satwa yang dilindungi di Indonesia. Namun demikian ada beberapa jenis yang telah masuk daftar rentan dari kepunahan, yaitu Gagak Banggai (Corvus unicolor) yang teridentifikasi di pulau Banggai, Timur Sulawesi dan Gagak Flores (Corvus florensis) yang merupakan burung endemik Flores.
Di beberapa kebudayaan dan mitologi, burung gagak kerap dikaitkan dengan sesuatu yang buruk. Di Eropa, gagak dipercaya sebagai burung peliharaan penyihir. Di Indonesia, gagak di hutan dianggap dapat menjadi pertanda kesulitan yang bakal timbul. Ada pula kepercayaan yang mengaitkan sate gagak untuk memanggil genderuwa. Bahkan di dalam Al qur’an, disebutkan bahwa Allah dengan perantara gagak telah mangajari Qobil (anak Nabi Adam) yang membunuh saudaranya untuk mengubur mayat.
Di antara jenis-jenis unggas, gagak diketahui mempunyai tingkat kecerdasan yang relatif tinggi. Kualitas ini sudah sejak lama diketahui manusia, khususnya dalam keterampilannya mencuri berbagai alat bantu manusia. Hewan ini mempunyai kemampuan belajar dan dapat memecahkan permasalahan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitarnya.
Penelitian terbaru menunjukkan kandidat tak terduga dari kategori hewan tercerdas adalah Gagak. Tidak terduga karena pertimbangan terhadap banyaknya budaya yang melekatkan Gagak sebagai pertanda nasib buruk dan kematian (mungkin karena peran tenangnya penguburan dalam cerita di atas?), yang ternyata hewan ini justru hewan super cerdas! (Al-Nadi.S. 2010).
Majalah American Scientific mempublikasikan hasil penelitian para ilmuwan, Bernd Heinrich dan Thomas Bugnyar-Vermont University, Kanada dan St Andrews University, Skotlandia - yang menunjukkan kemampuan mental yang luar biasa dari gagak. "Burung ini menggunakan logika untuk memecahkan masalah dan beberapa kemampuan mereka bahkan melampaui dari kera besar," kata mereka.
Dalam percobaan ini, gagak diberi tugas yang sangat kompleks yang mereka belum pernah dapati sebelumnya dan naluri mereka tidak diprogram untuk melakukannya secara alami, namun mereka selalu berhasil mencari kreatifitas dan solusi logis untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Yang lebih mengejutkan lagi, mereka melakukannya dengan benar pertama kali, setiap kali, tanpa proses trial and error apapun!
Percobaan menunjukkan bahwa gagak mampu untuk menguji setiap kemungkinan yang ada dalam pikiran mereka dalam waktu singkat, pilih solusi yang paling efektif, dan menerapkannya dengan benar saat pertama kali mereka mencobanya, sungguh makhluk paling cerdas, tidak ada yang bisa menandinginya.
Beberapa percobaan menunjukkan bahwa burung gagak yang licik bisa membuat binatang lain bekerja untuk mereka, membuat hewan lain mencarikan makanan untuk mereka atau minimalnya mempermudah mereka. Pada percobaan pertama, Gagak sukses mengambil makanan didalam tabung dengan menggunakan semacam kawat seperti kail. Dalam percobaan lain, di mana makanan mengapung diatas air dalam tabung panjang, langkah pertama yang dilakukan gagak adalah menjatuhkan kerikil kecil dalam tabung yang diperlukan untuk meningkatkan ketinggian air yang cukup bagi paruhnya untuk mencapai makanan.
Melihat video dari percobaan di atas, Sahar Al-Nadi memutuskan untuk mencoba eksperimen kecil pada manusia: Sahar Al-Nadi memainkan video di mana gagak yang menggunakan batu kerikil kepada sejumlah orang dari usia yang berbeda kemudian bertanya kepada mereka apa yang akan mereka lakukan jika mereka berada di tempatnya? jawaban dengan suara bulat "Air ditumpahkan, dan ambil makanan" Ketika mereka melihat bahwa Gagak tidak mengambil makanan dengan cara menumpahkan air, mereka pun terkagum namun disertai pula dengan sikap merendahkan memastikan bahwa mendapat makanan tanpa mengganggu atau merusak lingkungan di mana menemukannya, sebuah pelajaran berharga bahwa manusia perlu belajar banyak.
Gagak juga mampu bekerja sama untuk menjebak dan membunuh mangsa: dua dari gagak akan terbang ke tanah untuk memblokir rute melarikan diri, sementara yang lain menyerang mangsa. Perilaku ini menunjukkan bahwa mereka saling mengerti satu sama lain dan apa yang ada pada benak si mangsa. Gagak bahkan akan bekerjasama untuk memecahkan masalah yang ditetapkan untuk mereka selama eksperimen, dan akan mengenali diri mereka sendiri ketika mereka melihat ke dalam cermin.
Bukti lain kecerdasan yang tinggi dari Gagak adalah bahwa mereka bisa beradaptasi dengan daerah yang sangat berbeda, dari padang pasir ke pegunungan. Mereka belajar untuk menemukan makanan bahkan dalam kondisi paling keras, dan mereka tahu bagaimana dan kapan harus menggunakan hewan lain untuk membantu mereka mendapatkan makanan yang mereka tidak bisa mendapatkannya sendiri. "Gagak adalah kognitif sama dengan seorang anak dua tahun," kata ahli biologi Thomas Bugnyar.
Gagak adalah spesies yang sangat sosial dan hidup dalam kelompok keluarga besar, namun beberapa perkelahian mereka dalam sebuah keluarga biasanya tidak lama dan hanya terjadi dengan beberapa patukan saja, mereka hanya akan bertempur sampai mati dengan musuh yang membahayakan keluarga mereka. Bandingkan dengan perilaku anak Adam yang membunuh saudaranya sendiri!
Quran membuka pintu besar untuk pembelajaran dengan menunjukkan gagak sebagai mentor untuk manusia. Gagak tampaknya menjadi guru yang baik dalam berpikir logis, pemecahan masalah secara kreatif, kerja tim, perencanaan strategis, dan manajemen sumber daya yang efektif - dengan tetap menunjukkan rasa hormat terhadap lingkungan. Jadi, mungkin ini adalah waktu yang tepat bagi kita untuk belajar dari makhluk-makhluk cerdas, seperti yang kita lihat, kita membutuhkan kekuatan berpikir mereka untuk membawa kita kembali ke tujuan utama kita sebagai khalifah di Bumi.

Diperoleh dari:
 "http://id.wikipedia.org/wiki/Gagak" Kategori: Burung

Sabtu, 19 Februari 2011

Teknik Inokulasi Gaharu (Edisi 7 2010)

Gaharu merupakan salah satu komoditi hasil hutan bukan kayu dengan produk gubalnya yang mengandung damar wangi (aromatic resin). Gaharu telah lama diperdagangkan sebagai komoditi elit utnuk keperluan industri. Pohon penghasil gaharu termasuk pohon yang jenis kayunya jelek, tidak dapat dipakai untuk keperluan bahan bangunan atau untuk membuat peralatan lainnya karena sifatnya yang cepat lapuk. Namun keharuman aroma gaharu menjadikannya sebagai komoditi perdagangan penting dalam lingkungan industri parfum, kosmetika, hio, setanggi, dan obat-obatan. Gaharu sebagai obat antara lain sebagai obat penawat racun ular, kalajengking dan obat sakit gigi.

Produk gaharu yang diperdagangkan berasal dari seluruh Indonesia, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Papua. Eksploitasi gaharu yang selama ini dilaksanakan tanpa memperhatikan kaidah kelestarian mengakibatkan populasi pohon gaharu saat ini semakin menurun, bahkan sejak tahun 1995 CITES telah memasukkan gaharu kedalam Appendix II, karena populasinya telah semakin berkurang, bahkan mendekati kategori rentan punah. Oleh karena itu, upaya pengembangan tanaman yang menghasilkan gaharu melalui budidaya sangat dirasakan urgensinya.

Menurut WCMC dan TRP rata-rata kemampuan suplai negara-negara eksportir gaharu adalah sebesar 670 ton/tahun. Jumlah ekspor diatas cenderung menurun setiap tahunnya. Sebagai contoh, Indonesia merupakan eksportir gaharu alam terbesar dengan angka 300 ton/tahun, sejak tahun 1998 kemampuan ekspor Indonesia hanya mencapai angka 30 ton/tahun. Hal diatas akibat masih rendahnya usaha budidaya gaharu dan menurunnya populasi gaharu akibat overexploitasi.

Dengan dilakukan inokoulasi gaharu diharapkan dapat tercapailah tujuan-tujuan berikut:
  1. Meningkatkan Pendapatan masyarakat. Lahan-lahan tidur yang dimiliki oleh masyarakat dapat dimanfaatkan untuk budidaya gaharu, sekaligus untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan melalui komoditi gaharu.
  2. Melestarikan Jenis-jenis tanaman penghasil gaharu.
  3. Membuka Lapangan Kerja Baru.
  4. Memenuhi kebutuhan pasar gaharu, baik pasar domestik maupun kebutuhan ekspor.

Berikut adalah teknologi Inokulasi yang dikembangkan oleh Kelompok 88 :
1. Teknologi Inokulasi

  • Inokulan

Inokulan yang dikembangkan oleh Kelompok Gaharu 88 adalah inokulan yang idealnya dapat merangsang terakumulasinya aromatic resin disekitar lubang bor dan menjamin tidak terjadinya pembusukan/pelapukan kayu pada lubang bor. 
Hingga saat ini pengembangan dan penelitian pembuatan Inokulan masih terus berjalan. Hal ini dimaksudkan untuk lebih meningkatkan kecepatan pembentukan gubal dan kualitas gubal yang dihasilkan. 
  • Penginokulasian

Tahapan-tahapan dalam penginokulasian gaharu adalah sebagai berikut : 
- Persiapan peralatan inokulasi seperti bor listrik, genset, sabuk pengaman dan peralatan lainnya. 
- Pembersihan areal sekita pohon gaharu. Areal dekitar pohon gaharu harus bersih sehingga memudahkan pelaksana inokulasi dalam menjalankan tugasnya.
- Pengeboran pohon untuk lubang baut panjatan. Jarak dan arah lubang tergantung dari jangkauan dan kebiasaan masing-masing pelaksana inokulasi (D = 1,3 cm).
- Pengeboran pohon untuk lubang inokulan. Untuk meminimalkan pengurangan kekuatan pohon akibat pengeboran, rangkaian lubang bor dibuat berpola spiral dengan kemiringan 45º. Jarak antar lubang ±4 cm dan jarak vertikalnya ±21 cm.  Pada penginokulasian tahap II & III lubang bor dibuat ±3 cm diatas lubang sebelumnya dengan jarak horizontal ±1 cm.
- Pemasukan Inokulan. Pemasukan inokulan dapat mengunakan berbagai cara tergantung dari jenis inokulanya. Untuk inokulan cair dapat digunakan spoit, sedangkan inokulan padat bisa menggunakan sejenis talang dan pendorong  atau langsung menggunakan tangan. 
- Penutupan lubang inokulasi. Setelah inokulan dimasukkan lubang bor sebaiknya segera ditutup dengan lilin agar kontaminan yang merugikan dan air tidak masuk ke dalam lubang inokulasi.
- Pengupasan kulit. Untuk membatasi pertumbuhan pohon kearah samping sekaligus meningkatkan massajenis kayu (D= konstan, ρ = meningkat) dilakukan pengupasan kulit pohon sampai batas cabang.
- Pemangkasan Cabang. Untuk mengurangi tekanan angin perlu dilakukan pemangkasan cabang pohon gaharu yg telah diinokulasi.

2. Pemeliharaan dan Pemupukan
Pemupukan perlu dilakukan terutama di lahan yang kesuburannya rendah. Pemberian pupuk dapat dilakukan dua kali dalam setahun, dengan ukuran 5  kg pupuk per-pohon. Pembersihan areal penanaman juga perlu dilakukan guna menghindari tumbuhnya gulma (tumbuhan pengganggu) khususnya pada musim hujan atau 4 kali dalam setahun.

3. Panen dan Pasca Panen
Produksi gubal gaharu akan terbentuk setelah perlakuan berjalan 2 bulan. Hal ini dimulai dengan berubahnya warna kayu sekitar penyuntikan menjadi cokelat dan bertekstur keras serta berbau wangi. Pemanenan dapat dilakukan mulai dari 1 tahun setelah penginokulasian dengan cara menebang pohon. Kualitas gubal gaharu yang dihasilkan  berbanding lurus dengan tingkat kesuburan pohon dan lamanya penginokulasian. Semakin lama penginokulasian maka semakin tinggi kualitas gubal gaharu yang dihasilkan. Potongan-potongan gubal gaharu dibersihkan dari bagian kayu yang tidak terbentuk menjadi gubal. Pembersihan kayu putih dari gubal memerlukan tenaga kerja yang memiliki keterampilan khusus, sehingga tidak menurunkan kelas gubal akibat kurang terampilnya tenaga kerja.  Kemudian dilakukan penyortiran berdasarkan kelasnya (Super, AB, BC, C1 dan C2). Untuk mengurangi kadar air, potongan gubal gaharu dikeringkan dengan cara menjemur di bawah sinar matahari. Untuk gaharu kelas kemedangan selain dapat dipasarkan langsung dapat pula didistilasi untuk diambil minyaknya. 

Sumber :
  • Anonim. 2006. Power Point  Teknologi Inokulasi Gaharu Alam Kerjasama Universitas Bengkulu Dengan Kelompok Gaharu 88 Bengkulu. Disampaikan dalam rangka Workshop Gaharu Tingkat Nasional Tanggal 11  13 September 2006 di Surabaya.
  • Anonim. 2006. Teknik Inokulasi Dan Produksi  Tegakan Gaharu Alam. Makalah Work Shop. Disampaikan dalam rangka Workshop Gaharu Tingkat Nasional Tanggal 11  13 September 2006 di Surabaya.