Selamat Datang di Buletin Konservasi Kepala Burung (Bird's Head) Blog "sebuah Blog yang berisi artikel-artikel seputar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dan merupakan media informasi, komunikasi, sosialisasi antar sesama rimbawan dalam menegakkan panji-panji Konservasi..."
Bagi Bapak/Ibu/Sdr/Sdri/Rekan-Rekan Sekalian yang ingin menyampaikan artikelnya seputar Konservasi atau ingin ditampilkan pada Blog ini, dapat mengirim artikel tersebut ke Email Tim Redaksi Buletin : buletinkepalaburung@gmail.com atau ke Operator atas nama Dony Yansyah : dony.yansyah@gmail.com

Senin, 14 Februari 2011

SUAKA MARGASATWA LAUT (SML) PULAU VENU (Edisi 6 2010)


Berdasarkan perencanaan Bappeda Tingkat II Kabupaten Fakfak (Pada tahun 1991 Kabupaten Kaimana masih merupakan bagian dari Kabupaten Fakfak sebagai Kecamatan Kaimana), pantai dan perairan di Kaimana diprioritaskan sebagai daerah pengembangan pariwisata.   Pengembangan pariwisata ini dapat berupa panorama alam maupun wisata bahari, dan sejarah kota Kaimananya. Hal yang telah dikenal oleh wisatwan tentang Kaimana adalah “Senja Indah di Pantai Kaimana” yang mengilhami penciptaan lagu.

Di Kaimana terdapat salah satu pulau kecil terpencil yang yang cukup potensial sebagai habitat tempat bertelur penyu hijau dan penyu sisik dan berbagai jenis ikan dan karang komersial lainnya.  Berdasarkan hal tersebut, maka dikeluarkan Surat Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Irian Jaya Nomor 522.4/1703 tanggal 20 Agustus 1991 perihal tinjauan kemungkinan Pulau Venu menjadi kawasan cagar alam di Kecamatan Kaimana Kabupaten Daerah Tingkat II Fakfak. Berkenan surat tersebut pulau Venu dan sekitarnya diusulkan sebagai Suaka Margasatwa Laut.  

Pulau Venu dan sekitarnya merupakan salah satu daerah pengembangan kawasan konservasi laut di Propinsi Irian Jaya sebagai upaya pencapaian target luas kawasan konservasi laut 10 juta hektar pada akhir PELITA V.  Berdasarkan hal tersebut, maka telah dilakukan kegiatan penilaian potensi sumberdaya alam laut di pulau Venu dan sekitarnya dari tanggal 16 sampai dengan 29 September 1991 oleh Tim Pelaksana Pengembangan Kawasan Pelestarian Laut Tahun 1990/1991 dari Direktorat Pelestarian Alam pada Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam Departemen Kehutanan.

Secara geografis, kawasan SML Pulau Venu terletak di antara 1330 26' 32” BT sampai 1330 34' 19” BT dan 40 13' 57” LS sampai 40 22' 51” LS.  Adapun luasan SML Pulau Venu sebesar 16,320 ha dengan luasan perairan 15,360 ha dan daratan 0,960 ha. Berdasarkan administrasi pemerintahan SML Pulau Venu termasuk dalam wilayah pemekaran Kabupaten Kaimana, Propinsi Papua Barat tepatnya berada di sekitar kampung Adi Jaya.  Sebelah Utara kawasan ini berbatasan langsung dengan kampung Adi Jaya, sebelah Timur, Selatan, dan Barat berbatasan dengan Laut Aru.

Peta Lokasi Kawasan Konservasi SML Pulau Venu pada Distrik
Buruway Kabupaten Kaimana Provinsi Papua Barat

SML Pulau Venu merupakan salah satu kawasan konservasi yang menjadi bagian dari kewenangan Balai Besar KSDA Papua Barat berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor : 891/Kpts-II/1999 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I IrianJaya Seluas ± 42.224.840 hektar.  Luas daratan SML Pulau Venu seperti disebutkan diatas, sampai saat ini merupakan pulau karang yang tidak berpenghuni, namun SML Pulau Venu sering disinggahi para nelayan pencari sirip hiu yang biasanya beroperasi diperairan sekitarnya, pencurian telur dan daging penyu, dan kapal-kapal yang singgah dengan alasan menghindari angin dan badai. Masyarakat menetapkan kawasan ini sebagai daerah yang dikelola dengan system sasi/nggama untuk melakukan pengaturan/pemanfaatan lola.

Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan di lapangan yang telah dilakukan terhadap sumber daya alam laut di daerah tersebut secara umum dapat dikelompokkan sebagai berikut: kelompok Moluska; jenis-jenis yang  dijumpai lola (Trochus niloticus), kima besar (Tridacna maxima), kima sisik (Tridacna squamosa), kima pasir (Hippopus hippopus), kima lubang (Tridacna crocea), keong kepala kambing (Cassis cornuta), keong terompet (Charonia tritonis), dan nautilus berongga (Nautilus pompilus), jenis-jenis moluska tersebut telah dilindungi Undang-Undang.  Sedangkan jenis lainnya lambis-lambis  (Lambis-lambis), Cypraea sp., Strombus sp., Tutufa sp., Maelanga sp.,  dan  Conus spp.,  kelompok Ganggang Laut;  jenis-jenis yang dijumpai gracillaria sp., dan Gelidium sp. 

Selain itu dijumpai lamun dari jenis Thalassia sp., dan  Halodule sp.,  Penyu; jenis-jenis yang dijumpai adalah penyu sisik (Eretmochelys imbricate) dan penyu hijau (chelonian mydas). Dari informasi penduduk pulau Adi Jaya di perairan sekitar Venu pernah dijumpai penyu belimbing (Dermochelys coriaceae) oleh masyarakat setempat disebut “kmeb”. Musim bertelur penyu tertinggi di pulau Venu pada bulan September, namun perlu diingat hampir setiap hari/malam penyu naik bertelur.  kelompok jenis burung;  jenis-jenis burung yang dijumpai adalah dara laut (Sterna sp.), elang laut (Haliaster sp.) dan camar dara (Anous stilodus).  Adapun potensi flora pantai di pulau Venu yang dominan adalah cemara laut (Casuarina equisetifolia) yang merupakan jenis asli daerah tersebut, sedangkan jenis-jenis lainnya yang ditemui adalah putat laut (Barringtonia asiatica) dadap laut (Erythrina sp.), waru laut (Hibiscus tiliaceus), pandan (Pandanus tectorius) dan ketapang (Terminalia catappa).  

Potensi yang dapat dikembangkan sebagai atraksi wisata dalam pengembangan wisata bahari dan meningkatkan perolehan PAD di SML Pulau Venu antara lain pentas budaya dalam membuka dan menutup sasi terhadap pemanfaatan lola, wisata bahari surfing, snorkeling, diving, menikmati panorama terbitnya matahari (sunrise) dan terbenamnya matahari (sunset), penelitian dan pengembangan terhadap keanekaragaman hayati baik di darat maupun di laut serta panorama danau/laguna.

Keindahan laguna/danau di tengah Pulau Venu

Karakteristik Pulau Venu merupakan salah satu daratan pulau yang berada di palung Irian sebelah Utara serta berhadapan langsung dengan perairan laut dalam (laut bebas).  Dengan adanya pengaruh mulut muara Kamran di daratan Pulau Irian, dapat menyebabkan wilayah perairan sekitarnya memiliki pola arus yang pada musim-musim tertentu relatif sangat kuat, disertai gelombang pecah.  Diduga juga karena pengaruh pertemuan lempeng Pasifik dan Australia serta pengaruh arus dingin dan arus panas.  Pada bagian Baratnya, sangat dipengaruhi oleh iklim dan berbagai sifat hidrooceanografis antara lain pengaruh pasang-surut, gelombang serta angin.  

Kondisi pantai pulau Venu secara umum lebar dan landai (relatif datar) dimana di bagian Timur bervariasi antara 20-30 meter kearah laut dan akan bertambah agak lebar pada saat terjadi surut air laut. Berdasarkan informasi masyarakat pulau Venu sekarang telah mengalami perubahan bentuk.  Perubahan bentuk tersebut antara lain di sebelah Selatan pulau dulunya hanya merupakan cekungan yang tidak dalam sekarang menjadi lebih dalam dan membentuk teluk. Di bagian Barat pulau telah terjadi abrasi, sedangkan di bagian Timur terjadi perluasan pantai, sehingga pulau tersebut seperti bergeser ke arah Timur. Cekungan bagian Selatan sudah tertutup, sehingga terbentuknya laguna/danau air payau di tengah-tengah pulau Venu.  

Berdasarkan peta yang ada SML Pulau Venu adalah Pulau Tumbu-tumbu yang oleh masyarakat pulau Adi Jaya dan sekitarnya disebut pulau Penyu.  Pulau Venu masuk dalam wilayah administrasi kampung/desa Adi Jaya Distrik/Kecamatan Buruway Kabupaten Kaimana, Propinsi Papua Barat.  Kawasan ini di sebelah Utara berbatasan langsung dengan kampung Adi Jaya, di sebelah Timur, Selatan, dan Barat berbatasan dengan laut Aru.
Pada umumnya struktur tanah di SML Pulau Venu adalah pantai berpasir dan berkarang.  Sedangkan Keadaan iklimnya termasuk tipe B menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson. Cagar alam ini memiliki curah hujan rata-rata 1.500-3.000 mm (Data Badan Meteorologi dan Geofisika Kabupaten Kaimana Tahun 2008).

Bekas jaring nelayan yang ditinggalkan 

Topografi SML Pulau Venu relative datar dengan ketinggian antara 0 sampai 7 meter di atas permukaan air laut.  Sedangkan di bagian tepi luar terdapat pantai berpasir mengelilingi pulau dengan lebar ke arah laut relatif bervariasi. Adapun keadaan perairan di sekitar pulau memiliki kedalaman yang bervariasi antara antara 7 sampai 70 meter (Peta laut, TNI AL Dinas Hidro Oceanografi).

Aksesibilitas  menuju SML Pulau Venu sangat mudah, dapat dijangkau dengan menggunakan transportasi laut baik kapal motor, speedboat maupun longboat. Adapun waktu tempuh dari ibu kota Kabupaten Kaimana memerlukan waktu antara 5 s/d 7 jam, menggunakan longboat berkekuatan 40 tenaga kuda/PK (tergantung cuaca yang dipengaruhi musim/panca roba).

Karapas Penyu yang sudah dimanfaatkan dagingnya dan bekas jejak penyu

Permasalahan yang dihadapi dalam penanganan kawasan konservasi SML Pulau Venu, antara lain: masih banyaknya pencurian telur, daging, dan kerapas dada/kerang penyu, pembantaian ikan hiu dan ikan pari yang diambil siripnya saja kemudian bangkainya dibuang  ke laut yang dapat mengakibatkan pencemaran laut sekitanya.  Hal tersebut disebabkan karena kurangnya pengawasan secara intensif.  Berkenaann hal tersebut, sehingga perlu adanya pembangunan pos terpadu yang dilakukan oleh para pihak/pemangku kepentingan dengan memperhatikan aspek kenyamanan bagi keberadaan satwa atau tumbuhan baik di darat maupun di laut yang diberikan perlindungan.

Oleh : Zeth Parinding, S.Hut,. MP

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar