Selamat Datang di Buletin Konservasi Kepala Burung (Bird's Head) Blog "sebuah Blog yang berisi artikel-artikel seputar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dan merupakan media informasi, komunikasi, sosialisasi antar sesama rimbawan dalam menegakkan panji-panji Konservasi..."
Bagi Bapak/Ibu/Sdr/Sdri/Rekan-Rekan Sekalian yang ingin menyampaikan artikelnya seputar Konservasi atau ingin ditampilkan pada Blog ini, dapat mengirim artikel tersebut ke Email Tim Redaksi Buletin : buletinkepalaburung@gmail.com atau ke Operator atas nama Dony Yansyah : dony.yansyah@gmail.com

Sabtu, 05 Maret 2011

Mengenal dan Mengidentifikasi Jamur Liar (Wild Mushroom) di TWA Sorong (Edisi 8 2010)

I. Pendahuluan
Jamur sering kita jumpai pada saat musim penghujan pada tempat-tempat yang lembab. Jamur tumbuh di kayu-kayu yang telah lapuk, serasah, jerami, dan bahan organik yang lainnya. Umur hidup jamur tidaklah lama, pada musim kemarau jamur sulit ditemukan kecuali pada lantai-lantai hutan yang iklim mikronya masih sangat bagus. Tidak semua orang mengetahui manfaat jamur, bahkan ada beberapa orang yang tidak tertarik untuk mengenalnya karena alasan kotor dan beracun. Beberapa jenis jamur telah diketahui bisa dimakan (edible mushrooms) bahkan ada yang berkhasiat obat. Tapi ada juga beberapa jenis lainya yang berbahaya untuk dimakan. 

TWA Sorong memiliki iklim mikro yang baik untuk tempat tumbuhnya jamur liar (wild mushroom). Identifikasi jamur liar di TWA Sorong perlu dilakukan untuk mengetahui keragaman jamur liar yang tumbuh di dalamnya. Dari kegiatan identifikasi akan dapat diketahui jenis jamur apa saja yang berpotensi untuk dimakan, yang beracun, dan yang berkhasiat obat. Di Manokwari ibukota provinsi Papua Barat, penduduk lokal telah mengetahui jenis-jenis jamur liar yang bisa dimakan dan tidak. Beberapa penduduk lokal di sana ada yang menjual jamur hutan di pasar tradisional Sanggeng dan Wosi [15].

II. Mengenal Ciri-ciri Umum Jamur
Ciri-ciri jamur berbeda dengan organisme lainnya, yaitu dalam hal : struktur tubuh, cara makan, dan reproduksinya.
a. Struktur Tubuh
Struktur tubuh jamur ada yang satu sel, misalnya: khamir, ada pula jamur yang multi seluler membentuk tubuh buah besar yang ukurannya mencapai satu meter, misalnya : jamur kayu. Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebut miselium[2]. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah.
Tubuh buah jamur pada umumnya tersusun oleh bagian bagian yang dinamakan  tudung/cap (pileus), bilah (lamellae), kumpulan bilah (gills), cincin (annulus/ring), batang/tangkai (stipe), cawan (volva), akar semu (rhizoids), sisik (scale), .


b. Cara Makan 
Untuk memperoleh makanan jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya yang akan disimpan dalam bentuk glikogen. Jamur bersifat heterotrof yaitu sebagai konsumen murni yang bergantung pada subtract yang menyediakan karbohodrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit [2].  
  1. Parasit Obligatif, merupakan sifat jamur yang hanya dapat hidup pada inangnya, sedangkan diluar inangnya tidak dapat hidup, misalnya Pneumonia carinii (khamir yang menginfeksi paru-paru penderita AIDS). 
  2. Parasit Fakultatif, merupakan jamur yang bersifat parasit jika mendapat inang yang sesuai, tetapi dapat bersifat saprofit jika tidak menemukan inang yang cocok. 
  3. Saprofit, merupakan jamur pelapuk dan pengubah susunan zat organik yang telah mati.

c. Reproduksi
Reproduksi jamur dapat secara seksual (generative) dan aseksual (vegetative) [2]. Secara aseksual, jamur menghasilkan spora. Sedangkan secara seksual pada jamur melalui kontak gametangium dan konjugasi. Kontak gametangium mengakibatkan terjadinya singami, yaitu persatuan sel dari dua individu.

III. Bagaimana Membedakan Jamur yang Beracun dan Tidak
a. Jamur yang Beracun Memiliki Ciri-ciri sebagai berikut : [1]
  • Pada umumnya mempunyai warna yang menyolok, seperti : merah darah, hitam legam, biru tua, ataupun warna-warni lainnya;
  • Menghasilkan bau busuk yang menusuk hidung, seperti telur busuk H2S ataupun bau amoniak;
  • Mempunyai cincin atau cawan, akan tetapi ada juga jamur yang mempunyai cincin tetapi tidak beracun seperti jamur merang dan jamur kompos;
  • Umumnya tumbuh pada tempat-tempat yang kotor seperti tempat pembuangan sampah dan kotoran hewan;
  • Apabila jamur beracun tersebut dikerat dengan pisau yang terbuat dari perak maka pisau tersebut akan berwarna hitam atau biru;
  • Apabila dimasak cepat sekali berubah warna dari warna putih menjadi gelap.
  • Contoh jamur yang beracun di antaranya Amanita, Lepoita, Russula, Phallus, Boletus, dll.
b. Jamur yang Tidak Beracun Memiliki Ciri-ciri sebagai berikut: [5] [6]
  • Warna spora cokelat, misalnya , Volvariella volvaceae (jamur merang). Ada juga warna spora putih antara lain Pleurotus sp (jamur tiram cokelat, putih, atau kuning), Tremella fusiformis (jamur kuping putih) dll;
  • Kalau jamur dioleskan ke kulit tidak gatal ada kemungkinan  jamur tersebut  tidak beracun;
  • Apabila pada tubuh buah jamur terlihat banyak kropeng2 bekas dimakan serangga atau siput berarti jamur itu bisa dimakan.
  • Warna jamur yang tidak beracun pada umumnya tidak menyolok dan tidak mengeluarkan bau yang menyengat.

IV. Kandungan Gizi dan Khasiat Jamur Budidaya
a. Kandungan Gizi Jamur 
Jamur sudah menjadi bahan yang populer sejak sebelum masehi, raja-raja Mesir dan Yunani kuno dikenal sebagai penyuka jamur. Kebanyakan orang mengkonsumsi jamur selain karena kelezatannya juga karena khasiat dan kandungan gizi dalam jamur tersebut. Dari hasil penelitian diketahui perbandingan kandungan gizi jamur dengan makanan lain seperti terlihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 1. Perbandingan Kandungan Gizi Jamur dengan makanan Lain (dalam %) [3

Tambahan lagi tentang kandungan gizi jamur, diketahui kalori yang dikandung jamur adalah 100 kj/100 gram dengan 72% lemak tak jenuh. Jamur juga sangat kaya akan vitamin, diantaranya B1, B2, Niasin, dan Biotin. Sedangkan untuk mineral, jamur mengandung K, P, Fe, Ca, Na, Mg, Mn, Zn, dan Cu. Bagi para pelaku diet mengkonsumsi jamur sangatlah disarankan karena kandungan seratnya mencapai 7,4 %  24,6 %.

b. Khasiat Jamur
Hasil penelitian yang dilakukan Ujagar Group (India) dijelaskan bahwa, mengkonsumsi jamur tiram bagus untuk liver, pasien diabetes, antivirus dan anti kanker [4]. Penelitian lain yang dilakukan Departemen Sains Kementerian Industri Thailand diketahui  jamur tiram juga mengandung asam folat yang cukup tinggi dan terbukti ampuh menyembuhkan anemia [4].  Beta Glucan Health Center mengatakan bahwa jamur tiram yang bernama latin Pleurotus ostreatus mengandung senyawa pleuran yang berkhasiat sebagai antitumor, menurunkan kolesterol, serta bertindak sebagai antioksidan [4].

Para peneliti jamur telah melakukan riset sejak tahun 1960 dan mendapati dalam jamur terkandung polisakarida Beta-D-glucans yang mempunyai efek positif sebagai antitumor, antikanker, antivirus (termasuk AIDS), melawan kolesterol, antijamur, antibakteri, serta dapat meningkatkan sistem imun [4]. Di Jepang dan Cina telah dilakukan penelitian terhadap jamur Ganoderma (spesies Applanatum dan Lucidum) yang juga diketahui mengandung senyawa polisakarida Beta-D-glucans dengan rantai panjang, delapan jenis di antaranya berkhasiat sebagai antitumor [4]. Jamur Ganoderma juga sangat baik untuk mengobati alergi, asma, hepatitis, hepatitis B laten, TBC, rasa nyeri, menurunkan panas, memperbaiki pencernaan, mencairkan dahak, dan secara umum baik untuk paru-paru.

V. Identifikasi Jamur Liar (Wild Mushroom) di TWA Sorong
Identifikasi jamur dilakukan pada jalur tracking yang ada di dalam kawasan TWA Sorong. Selama di lapangan dilakukan pengambilan gambar dengan kamera. Selanjutnya dilakukan identifikasi jenis berdasarkan bentuk, warna, dan ukuran tubuh buah dengan merujuk pada berbagai sumber. 

Beberapa jenis jamur yang terdapat di dalam TWA Sorong dan telah diidentifikasi antara lain:
Hasil identifikasi Jamur liar (wild mushroom)  di TWA Sorong diketahui beberapa jenis yang tidak beracun dan bisa dikonsumsi. Ditemukan jenis jamur kuping hutan (Auricularia auricularia) yang sudah umum dikonsumsi masyarakat. Terdapat juga jenis jamur Ganoderma sp. dan Tremetes sp. yang telah diketahui berpotensi bahan obat. Sangat dimungkinkan masih terdapat banyak jenis jamur hutan di TWA Sorong yang belum berhasil diidentifikasi. 
Tabel 2. Spesifikasi Jamur Liar (Wild Mushroom) yang Telah Diidentifikasi di TWA Sorong

Potensi jamur liar khususnya di wilayah Papua Barat belum banyak diketahui dan dipelajari. Karena berpotensi sebagai sumber bahan makanan masa depan dan sumber bahan obat alami, jamur liar (wild mushroom) layak untuk dikaji dan diteliti lebih lanjut. 

Daftar Referensi
  • Http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2745399, di download tanggal 12 September 2010.
  • http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0024%20Bio%201-5a.htm di download tanggal 12 September 2010.
  • http://usahajamur.co.cc/2009/02/nilai-gizi-jamur/ di download tanggal 15 September 2010
  • http://catatankoe.wordpress.com/2007/12/11/aneka-khasiat-jamur/di download tanggal 15 September 2010
  • http://www.suaramerdeka.com/harian/0301/04/dar20.htm didownload tanggal 12 Oktober 2010
  • http://tanyasaja.detik.com/pertanyaan/11039-jamur di download tanggal 12 Oktober 2010
  • http://it.wikipedia.org/wiki/Aleuria di download 18 Oktober 2010
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Amauroderma di download 18 oktober 2010
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Honey_fungus#Description di download 18 Oktober 2010
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Auricularia auricula-judae di download 18 oktober 2010
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Collybia di download 18 Oktober 2010
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Ganoderma didownload 18 Oktober 2010
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Hydnum_repandum di download 18 Oktober 2010
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Trametes_versicolor di download 18 Oktober 2010
  • http://charlesroring.wordpress.com/2010/03/15/jalan-jalan-ke-gunung-meja-manokwari-papua-barat/ di download 12 Oktober 2010
  • http://www.infovisual.info/01/024_en.html di download 22 Oktober 2010

Oleh : Eko Yuwono, S.Hut
















Kamis, 03 Maret 2011

Pengelolaan Taman Wisata Alam Klamono Papua Barat (Suatu Pendekatan Bioregion) (Edisi 8 2010)

Penetapan dan pengelolaan kawasan konservasi adalah salah satu cara terpenting untuk dapat menjamin agar sumberdaya alam hutan dapat dilestarikan, sehingga dapat lebih memenuhi kebutuhan manusia lintas generasi. Usaha pelestarian sumberdaya alam yang terpulihkan seperti hutan dapat dicapai melalui beberapa usaha yang pada intinya berprinsip untuk menjaga proses-proses yang bekerja pada sistem penopang kehidupan. Hal tersebut tentunya akan lebih mudah tercapai jika pemerintah, sektor industri dan masyarakat luas mendukung strategi pengelolaan hutan berserta ekosistemnya secara menyeluruh.

Suatu kenyataan yang menyedihkan bahwa seringkali kawasan konservasi masih dinilai rendah sekalipun keuntungan ekonomi yang mungkin didapatkan secara jangka panjang melalui pengelolaan kawasan ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pola pemanfaatan dan penggunaan lahan lainnnya (MacKinnon et.al. 1993).

Arti penting dan peran dari kawasan konservasi tersebut akan terasa apabila sistem pengelolaan yang deterapkan dapat mengakomodasi semua kepentingan yang bekerja dalam sistem bentang alam, baik itu kepentingan konservasi dan pengelolaannya sendiri maupun kepentingan-kepentingan lain yang tidak kalah penting seperti kepentingan ekologis, sosial, budaya dan ekonomi. Pendekatan bioregion yang lebih dikenal dengan Ecosystem Based Management merupakan pendekatan yang belakangan ini dianggap paling relevan dan signifikan dalam pengelolaan kawasan konservasi dan kawasan dilindungi. Lewat tulisan ini, penulis secara singkat mencoba untuk menggambarkan konsep dasar pendekatan bioregion dalam pengelolaan Taman Wisata Alam Klamono.

Konsep Bioregion dan Pengelolaannya
Secara ekologi, Konsep pendekatan bioregion merupakan suatu pola dan sistem pengelolaan sumberdaya alam yang berasakan kelestarian. Bioregion adalah kawasan atau wilayah geografis yang relatif luas dan memiliki bentang alam serta kekayaan jenis keanekaragaman hayati yang tinggi dimana proses lingkungan alaminya mempengaruhi fungsi-fungsi ekosistem didalamnya. Bioregion terkait dengan sistem bentang alam, karateristik resapan air, bentukan lahan, spesies tumbuhan dan satwa dan budaya manusia (Ecopedia, 2006). Definisi diatas, menunjukan bahwa suatu batasan bioregion ditentukan bukan oleh batas secara politik, akan tetapi oleh batas geografis dari komunitas manusia dan sistim lingkungan yang bekerja didalamnya.

Pengelolaan wilayah hutan dengan menggunakan pendekatan bioregion memberikan keuntungan-keuntungan baik dari segi ekologi, ekonomi maupun sosial. Hal ini disebabkan karena dalam pemanfaatan tersebut ada keterkaitan antara komponen biologi serta ekosistem dan manusia yang merupakan syarat mutlak yang diperlukan untuk menjamin keberlanjutan dari proses-proses alam yang terjadi pada wilayah tersebut,  dimana dalam pendekatan ini wilayah dilihat sebagai suatu kesatuan yang utuh (Kartodihardjo, 2007).

Gambar 1. Variabel-variabel yang bekerja dalam suatu sisitem bioregion (Kartodihardjo, 2007)

Konsep pengelolaan hutan melalui pendekatan bioregion tidak berbeda jauh dengan pengelolaan berbasis ekosistem. Wood (1994) dalam Suhendang et. al (2005) menyatakan bahwa pengelolaan bioregion sebagai pengintegrasian prinsip-prinsip ekologis, ekonomis, dan sosial dalam pengelolaan sistem biologi dan fisik dalam suatu cara melindungi, menjaga dan mempertahankan keberlanjutan ekologis, keanekaragaman alami dan produktivitas dari suatu bentang alam.

Dengan pendekatan bioregion, pengelolaan dilakukan dalam suatu kesatuan bentang alam yang dibatasi menurut batas-batas ekologis dan bersifat spesifik lokasi dimana keberlangsungan dan kelestarian fungsi ekosistem mencakup fungsi-fungsi ekologis, ekonomi dan sosial menjadi perhatian utama yang diimplementasikan dalam tindakan-tindakan pemulihan, pembinaan dan pemanfaatan secara lestari melalui pengintegrasian multidi siplin. Oleh karena itu, mengapa hutan perlu dikelola berdasarkan pendekatan bioregion tertuang dalam karakteristik khas pengelolaan hutan, yaitu: (1) jasa lingkungan sebagai keluaran yang mutlak hadir dalam pengelolaan hutan, (2) hutan bersifat multifungsi yang memerlukan pendekatan optimalisasi, (3) hasil dan produksi kayu oleh hutan bersifat melekat pada pohon penyusun tegakan hutan itu sendiri, (4) dimensi waktu dalam pengelolaanya yang bersifat tidak terhingga dan, (5) proses pemulihan kondisi tegakan yang lebih mengandalkan faktor-faktor alamiah.

Pendekatan Bioregion dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi Taman Wisata Alam Klamono
Pendekatan bioregion dalam pengelolaan Taman Wisata Alam Klamono secara lestari dan berkelanjutan dalam arti sederhananya yakni taman yang dikelola, tidaklah hilang pada satu atau beberapa periode pengelolaan melainkan ”harus” dapat dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya. Dalam pada itu, muncul pertanyaan retoris “perlukah Taman Wisata Alam Klamono dikelola secara lestari dan berkelanjutan atas dasar pendekatan bioregion?”. Sebagian besar (rimbawan) di Kota Klamono ini tentu akan  menjawab “sangat perlu”, tetapi atas dasar apa dan bagaimana mencapai kondisi pengelolaan yang lestari berdasarkan bioregion tersebut, belum tentu dapat dipahami oleh sebagian besar masyarakat Kota Klamono.

Daryatun (2003), mengungkapan kawasan hutan yang memiliki nilai konservasi tinggi adalah kawasan hutan yang memiliki satu atau lebih ciri-ciri berikut :
  1. Kawasan hutan yang mempunyai konsentrasi nilai-nilai keanekaragaman hayati yang penting secara global, regional dan lokal (misalnya spesies endemik, spesies hampir punah, tempat menyelamatkan diri (refugia).
  2. Kawasan hutan yang mempunyai tingkat lanskap yang luas yang penting secara global, regional dan lokal, yang berada di dalam atau mempunyai unit pengelolaan, dimana sebagian besar populasi species, atau seluruh species yang secara alami ada di kawasan tersebut berada dalam pola-pola distribusi dan kelimpahan alami.
  3. Kawasan hutan yang berada di dalam atau mempunyai ekosistem yang langka, terancam atau hampir punah.
  4. Kawasan hutan yang berfungsi sebagai pengatur alam dalam situasi yang kritis (e.g. perlindungan daerah aliran sungai, pengendalian erosi).
  5. Kawasan hutan yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat lokal (mis, pemenuhan kebutuhan pokok, jasa lingkungan dan kesehatan) , dan
  6. Kawasan hutan yang sangat penting untuk identitas budaya tradisional masyarakat lokal (kawasan-kawasan budaya, ekologi, ekonomi, agama yang penting yang diidentifikasi bersama dengan masyarakat lokal yang bersangkutan).

Konsep bioregion pengelolaan Taman Wisata Alam Klamono yang terkandung dalam prinsip pengelolaan hutan lestari mengandung arti kelestarian fungsi ekosistem hutan secara utuh dan menyeluruh (holistic). Penerapan konsep ini dalam tindakan pengelolaan Taman Wisata Alam Klamono memerlukan pendekatan pengelolaan yang bersifat terpadu (integrated) pada tingkat kesatuan bentang alam (landscape) ekologi tertentu. Sifat suatu bioregion pengelolaan Taman Wisata Alam Klamono adalah adanya keterkaitan dan interaksi antara komponen penyusunnya termasuk masyarakat sekitar, maka ketika terjadi intervensi kegiatan manusia dalam sistem bioregion dapat memberikan beberapa pengaruh terhadap komponen-komponen lain yang bekerja dalam sistem boregion tersebut. Dengan alasan diatas, maka dalam pengelolaan Taman Wisata Alam Klamono, proses pengambilan keputusan harus dilakukan setelah mengevaluasi seluruh kemungkinan akibat yang mungkin terjadi terhadap komponen dan proses dari kesatuan-kesatuan ekosistem dan bioregion lain yang berbatasan. 

Konsep pendekatan bioregion dalam pengelolaan kawasan konservasi Taman Wisata Alam Klamono dapat dicapai melalui pengadopsian dan penerapan tiga prinsip dasar pengelolaan berbasis ekosistem seperti yang dirumuskan oleh Suhendang (2005), yaitu:

- Prinsip Keutuhan (holistic). Prinsip ini mengandung arti bahwa penyelenggaraan pengelolaan Taman Wisata Alam Klamono harus mempertimbangkan dan sesuai dengan keadaan dan potensi seluruh komponen ekologi pembentuknya (hayati dan non hayati); kawasan lingkungannya (biofisik, ekonomi, politik, dan sosial budaya masyarakat), serta memperhatikan dan dapat memenuhi kepentingan keseluruhan pihak yang tergantung dan berkepentingan terhadap kawasan tersebut.

- Prinsip Keterpaduan (Integrated). Prinsip ini mengandung arti bahwa penyelenggaraan pengelolaan Taman Wisata Alam Klamono harus berlandaskan kepada pertimbangan keseluruhan hubungan ketergantungan dan keterkaitan antara komponen-komponen pembentuk ekosistem hutan serta pihak-pihak yang tergantung dan berkepentingan terhadap kawasan dalam keseluruhan aspek kehidupannya, mencakup aspek lingkungan, aspek ekonomi, dan aspek sosial budaya. 

- Prinsip Keberlanjutan/Kelestarian (Sustainability). Prinsip ini mengandung arti bahwa fungsi dan manfaat Taman Wisata Alam Klamono dalam segala bentuknya harus dapat dinikmati oleh masyarakat Kota Klamono lintas generasi secara bekelanjutan dengan potensi dan kualitas yang sekurang-kurangnya sama (tidak menurun). Jadi tidak boleh terjadi pengorbanan (pengurangan) fungsi dan manfaat ekosistem Taman Wisata Alam Klamono. Prinsip ini mengandung konsekuensi terhadap luasan kawasan, produktivitas dan kualitas yang setidaknya tetap (tidak berkurang) dalam setiap generasinya. 

Sehubungan dengan hal diatas, maka untuk mewujudkan prinsip-prinsip dalam pengelolaan kawasan Taman Wisata Alam Klamono dengan pendekatan bioregion di atas, diperlukan tiga komponen kegiatan atau sikap utama yang diadopsi dari Suhendang (2005) , yaitu : 

a. Penataan ruang yang bersifat rasional dalam setiap kesatuan bentang alam (landscape scenario). 
Kesatuan bentang alam yang dipergunakan harus merupakan kesatuan ekologis, bukan kesatuan politik atau administrasi pemerintahan.

b. Komitmen yang kuat terhadap tata ruang yang telah disepakati (strong commitment). 
Seluruh pihak yang berada dan terkait dengan penggunaan ruang dalam setiap kesatuan ekosistem harus memiliki komitmen yang sama dan kuat untuk mempertahankan tata ruang yang sudah disepakati bersama secara konsisten.

c. Kebersamaan dalam perumusan kebijakan dan penyelenggaraan program pengelolaan (colaborative management ).
Regulasi dan program yang akan dilakukan dalam rangka pengelolaan Taman Wisata Alam Klamono dengan pendekatan bioregion hendaknya disusun dan dilaksanakan secara bersama dengan memperhatikan prinsip-prinsip hak dan kewajiban yang proporsional dan berkeadilan (sesuai undang-undang), keterbukaan, demokratis, dan bertanggungjawab. 

Dalam melakukan pemanfaatan dan pengelolaan Taman Wisata Alam Klamono dengan menggunakan konsep bioregion maka yang harus diperhatikan pula penentuan laju optimal setiap kegiatan pembangunan (sosial, ekonomi dan ekologis) yang menguntungkan dan ramah lingkungan. Kegiatan harus tidak melebihi daya dukung kawasan tersebut dan daya pulih serta daya lenting dari sumberdaya yang dimanfaatkan dengan memperhatikan aspirasi masyarakat lokal.

Sesuai pengertian dan konsep bioregion dan kaitannya dengan karakterisitk Taman Wisata Alam Klamono terutama menyangkut cakupan wilayah dan komunitas masyarakat sekitar dengan berbagai preferensi, maka keterpaduan dalam pengelolaannya dengan konsep ini perlu menjadi keharusan. Semua pihak yang memanfaatkan jasa kawasan taman baik secara langsung ataupun tidak langsung harus terlibat secara aktif dalam pengelolaan kawasan tersebut. Dalam konsep bioregion untuk pengelolaan Taman Wisata Alam Klamono maka semua stakeholder perlu terlibat termasuk juga pihak-pihak lain diluar stakeholder utama yang tertarik pada kawasan tersebut. Pendekatan sektoral harus dihilangkan dan diganti dengan pendekatan partisipatoris di mana semua pihak terlibat dalam proses mulai dari pendefinisian masalah sampai pada pemanfaatan dan pemantauan serta pengawasan. Suatu bentuk pengelolaan yang bersifat partisipatif dan kolaboratif dengan melibatkan masyarakat lokal secara aktif penting dirasakan terutama ketika membahas tentang penataan batas kawasan.

Akhirnya dalam pengelolaan Taman Wisata Alam Klamono sesuai VISI BBKSDA Papua Barat (9-5-10) diperlukan adanya suatu strategi pengembangan dengan sistem pengelolaan kolaboratif (colabarative management) melalui pendekatan bioregion merupakan sebuah keniscayaan. Mengingat sifat-sifat biofisik, keadaan ekonomi dan sosial-budaya masyarakat sekitar taman bersifat spesifik, maka tujuan pengelolaan, rumusan macam-macam bentuk dan intensitas kegiatan pengelolaan harus ditetapkan untuk setiap kesatuan pengelolaannya dan sesuai dengan sifat-sifat biofisik, keadaan ekonomi dan sosial-budaya masyarakatnya (adaptive management).  

Penutup
Berdasarkan uraian-uraian di atas maka dapat dibuat beberapa kesimpulan sebagai berikut:
  1. Pengelolaan Taman Wisata Alam Klamono dengan pendekatan konsep bioregion sangat berguna dan memberikan keuntungan-keuntungan baik secara ekologi, ekonomi mapun sosial budaya.
  2. Pengelolaan Taman Wisata Alam Klamono dan semua kegiatan pembangunan pada wilayah ini harus berpedoman pada kelayakan biofisik wilayah tersebut, dimana kegiatan-kegiatan yang pengelolaan tidak boleh melebihi daya dukung wilayah serta daya pulih atau daya lenting sumberdaya alam wilayah tersebut.
  3. Semua stakehloder dan mereka yang memiliki perhatian pada Taman Wisata Alam Klamono perlu secara aktif terlibat dalam pengelolaan kawasan tersebut mulai dari tahap penentuan isu pengelolaan, perencanaan sampai pada pelaksanaan dan pemantauan.

DAFTAR PUSTAKA
  • Daryatun et,al. 2003. Mengidentifikasi, Mengelola, dan Memantau Hutan dengan Nilai Konservasi Tinggi: Sebuah Toolkit untuk Pengelola Hutan dan Pihak-Pihak Terkait Lainnya. Rainforest Alliance. New York.
  • Ecopedia. 2006. Bioregion. Http://ecopedia.wordpress.com/author/ecopedia/
  • Kartodihardjo, H. 2007. Perspektif PSDAH Sebagai Aset Daerah. Bahan Pembuka FGD dalam Acara DRSP-USAID 16 Mei 2007.
  • MacKinnon et,al. 1993. Pengelolaan Kawasan yang Dil indungi di Daerah Tropika. Alh Bahasa oleh Amir Harsono, H. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
  • Suhendang et,al. 2005. Diktat Ilmu Perencanaan Hutan . Bagian Perencanaan Hutan Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.
  • Suhendang, E. 2005. Arah dan Skenario Pengembangan Pemantapan Kawasan Hutan.http://www.rimbawan.com/APHI0611/KUMPULAN_TULISAN/2005/Mei_2005/ARAH%20DAN%20SKENARIO%20PENGEMBANGAN%20terbaru.pdf.

Oleh : Azis Maruapey, S.Hut, MP (Staf Pengajar Kehutanan Universitas Al Amin Sorong Papua Barat)