Selamat Datang di Buletin Konservasi Kepala Burung (Bird's Head) Blog "sebuah Blog yang berisi artikel-artikel seputar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dan merupakan media informasi, komunikasi, sosialisasi antar sesama rimbawan dalam menegakkan panji-panji Konservasi..."
Bagi Bapak/Ibu/Sdr/Sdri/Rekan-Rekan Sekalian yang ingin menyampaikan artikelnya seputar Konservasi atau ingin ditampilkan pada Blog ini, dapat mengirim artikel tersebut ke Email Tim Redaksi Buletin : buletinkepalaburung@gmail.com atau ke Operator atas nama Dony Yansyah : dony.yansyah@gmail.com

Jumat, 05 Oktober 2012

Inventarisasi Desa di Sekitar Kawasan Konservasi Cagar Alam Pegunungan Wondiboy (Edisi 11)

 
Abstrak
Keberadaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi CA Pegunungan Wondiboy sangat berpengaruh terhadap strategi pengelolaan kawasan ini. Penelitian ini dilakukan pada akhir bulan Juli 2011 yang bertujuan untuk mendapatkan data demografi dan sosial ekonomi masyarakat di sekitar kawasan dengan menggunakan metode deskrifsi melalui teknik pengambilan data wawancara. Hasilnya diperoleh ada 5 distrik yang bersinggungan langsung dengan kawasan CA Peg. Wondama, yaitu: Distrik Teluk Duari, Distrik Wasior, Distrik Wondiboy, Distrik Rasiey, dan Distrik Naikere dengan jumlah total ada 33 kampung/desa. Jumlah penduduk ke-33 kampung tersebut adalah 18.013 jiwa dari yang berasal dari 4.246 rumah tangga dengan prosentasenya laki-laki (55%) dan perempuan (45%). Masyarakat memiliki pola dan bentuk-bentuk interaksi dengan kawasan seperti: berburu, berladang disekitar kawasan, memanfaatan hasil hutan non kayu, memanfaatan air dari dalam kawasan sebagai sumber air bersih dan MCK, dan menjaga nilai nilai kearifan lokal berupa larangan merusak/mengotori hulu sungai.

Key Words: Inventarisasi Desa, Cagar Alam Pegunungan Wondiboy, Pola dan Bentuk Interaksi

I. Pendahuluan

A. Latar Belakang
Keberadaan duapuluh delapan kawasan konservasi di Papua Barat dengan total luas 1,849,784.20 ha merupakan kekayaan sumberdaya alam bagi masyarakat Papua yang akan tetap dijaga dan dilindungi keberadaan serta kelestariannya. Keberadaan kawasan tersebut tentunya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat di sekitarnya. Masyarakat Papua khususnya penduduk lokal mempunyai kecenderungan masih menggantungkan kebutuhan hidupnya dari alam, mulai dari berburu, mencari hasil hutan nonkayu seperti: rotan, tumbuhan obat, bambu, dan gaharu. Kedekatan dengan alam bagi masyarakat Papua masih juga kental. Simbol-simbol adat dan pelaksanaan upacara adat hampir semua sarana prasarananya berasal dari hutan.

Secara tradisi pada umumnya masyarakat lokal telah mempunyai kearifal lokal dalam menjaga kawasan hutan yang berperan penting dalam kehidupan. Kearifan lokal seperti tidak boleh menebang jenis pohon tertentu dan tidak boleh mencemari/ merusak hulu sungai merupakan salah satu kearifan lokal yang dapat kita jumpai pada beberapa penduduk lokal Papua yang tinggal di pedalaman. Keberadaan masyarakat di sekitar kawasan dapat menjadi faktor pendukung dalam upaya perlindungan kawasan dan dapat juga sebagai faktor perusak kawasan itu sendiri. Kearifan-kearifan lokal dapat sebagai panutan bagi penduduk lokal untuk ikut serta menjaga hutan.

Kencenderungan kemajuan jaman telah meningkatkan kebutuhan masyarakat baik akan pangan, sandang, perumahan dan kebutuhan hidup lainnya. kebutuhan yang semakin meningkat yang tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan akan menjadikan rendahnya tingkat kesejahteraan suatu masyarakat. Pertambahan jumlah penduduk baik yang lahir maupun yang datang di suatu tempat khususnya kawasan yang berbatasan dengan kawasan konservasi merupakan tantangan dalam pengelolaan kawasan. Nilai-nilai kearifan lokal bisa jadi merupakan cerita masa lalu bagi para generasi muda sekarang ini. Pemberian pemahaman akan arti pentingannya kawasan konservasi perlu terus ditingkatkan ditengah-tengah gempuran kebutuhan ekonomi dan ketergantungan masyarakat akan lahan dan hasil hutan.

Sebagai salah satu faktor penting dalam pengelolaan kawasan konservasi, keberadaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi perlu didata dan dipantau secara rutin. Hal ini menyangkut seberapa besar kemungkinan dukungan pengelolaan dan ancaman yang datang dari masyarakat tersebut.

B. Tujuan
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menginventarisasi dan mengidentifikasi desa-desa di Kabupaten Teluk Wondama yang berada di dalam dan sekitar kawasan konservasi Cagar Alam Pegunungan Wondiboy.

C. Manfaat
Manfaat dari kegiatan ini adalah diketahuinya data dasar tentang demografi desa di sekitar kawasan konservasi Cagar Alam Pegunungan Wondiboy (Kab. Teluk Wondama) sehingga data tersebut dapat digunakan dalam penyusunan rencana pengelolaan kawasan.

II. Metodologi

A. Lokasi dan Waktu Kegiatan
Kegiatan inventarisasi/identifikasi desa di dalam sekitar kawasan konservasi dilakukan di Cagar Alam Pegunungan Wondiboy, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Kegiatan dilakukan selama 10 hari dari tanggal 21 Juli sampai dengan 30 Juli 2011.

B. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan ini antara lain: kuisioner sederhana, kamera, alat tulis, dan bahan kontak.

C. Objek Pengamatan
Obyek pengamatan dalam kegiatan ini antara lain: 
  • Jumlah distrik, kampung, dan penduduk yang berbatasan langsung dengan CA Peg. Wondiboy
  • Mata pencaharian
  • Kearifan lokal dan adat budaya
  • Sarana dan Prasarana Ekonomi
  • Bentuk dan pola interaksi dengan kawasan CA Peg. Wondiboy
D. Pelaksanaan Kegiatan
Survey awal dilakukan dengan mengunjungi kantor Badan Statistik Kabupaten Teluk Wondama. Selanjutnya setelah diperoleh gambaran kondisi kampung dari BPS segera dilakukan kunjungan ke dua kampung (sampel) yang ada di sekitar kawasan dengan teknik wawancara.

E. Analisi data
Analisis data dilakukan secara deskripsi kuantitatif, yaitu penjelasan dan penjabaran data-data yang berupa kuantitatif dan data-data kualitatif hasil wawancara.

III. Hasil dan Pembahasan

A. Distrik, Kampung, dan Penduduk
Kawasan Cagar Alam Pegunungan Wondiboy (CAPW) secara administrasi pemerintahan berada pada 5 (lima) Distrik di Kabupaten Teluk Wondama, yaitu: Distrik Teluk Duari, Distrik Wasior, Distrik Wondiboy, Distrik Rasiey, dan Distrik Naikere. Sedangkan jumlah kampung kelima distrik tersebut adalah 32 buah yang tersebar mengelilinggi kawasan CAPW. Total jumlah penduduk kelima distrik tersebut adalah 18.013 jiwa dari yang berasal dari 4.246 rumah tangga (BPS Teluk Wondama Tahun 2010). 

Grafik-1. Jumlah Penduduk per Distrik Berdasarkan Jenis Kelamin
di Sekitar CA. Peg. Wondiboy
Sumber : BPS Teluk Wondama Tahun 2010

Berdasarkan grafik-1 diketahui jumlah penduduk terbanyak berada di Distrik Wasior yang merupakan ibu kota Kabupaten dan merupakan distrik terpadat. Pada saat terjadi banjir bandang tanggal 4 oktober 2010 Distrik Wasior merupakan lokasi terparah dengan jumlah korban terbanyak. Jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dari pada penduduk perempuannya dengan prosentasenya laki-laki (55%) dan perempuan (45%).

Secara garis besar penduduk di sekitar kawasan CAPW dapat dibedakan menjadi penduduk lokal dan penduduk pendatang. Penduduk lokal merupakan masyarakat Suku Wondama yang merupakan bagian bari rumpun Suku Wamesa yang medimami wilayah Kaimana, Fakfak, Bintuni, dan Wondama. Penduduk pendatang sebagian merupakan transmigran, pedagang, pegawai, dan masyarakat Papua dari luar Teluk Wondama. 

Tabel 1. Jumlah Penduduk per Kampung Berdasarkan Jenis Kelamin
di Sekitar CA. Peg.Wondiboy
 Sumber : BPS Teluk Wondama Tahun 2010

Gambar. 2 Pasar di Kota Wasior


Gambar 3. Jalan Utama Kab. Teluk Wondama

Gambar 4. Opsetan Cenderawasih Kuning Kecil (Paradisaea minor pulchra) yang dijual warga masyarakat

Gambar 5. Rusa hasil buruan yang dipelihara masyarakat

Gambar 6. Suplay Air untuk MCK
 A. Mata Pencaharian
Masyarakat di sekitar CAPW sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani, nelayan, pedagang dan pegawai. Penduduk yang bermatapencaharian sebagai petani sebagian besar berada pada kampung-kampung transmigrasi di Distrik Teluk Duari. Nelayan adalah mata pencaharian utama penduduk yang tinggal di tepi pantai yang agak jauh dari kawasan CAPW. Pedagang sebagian besar tinggal di Distrik Wasior yang telah tersedia pasar semi tradisional dan sarana perekonomian lainnya. Pegawai hampir tersebar di semua distrik tapi sebagian besar berada di distrik Wasior.

B. Kearifan Lokal Masyarakat dan Adat Budaya
Masyarakat kabupaten Teluk Wondama kehidupan mereka sangat dekat dengan alam. Wawancara dengan kepala Kampung Dotir (Amundus Marani) dijelaskan ada pantangan atau pamali bagi orang Teluk Wondama untuk tidak merusak hulu sungai. Kali Mawoi hulu sungainya dijaga kelestariannya oleh masyarakat dan tidak boleh bermalam di sana. Kearifan lokal masyarakat Teluk Wondama sejalan dengan prinsip-prinsip konservasi.

Masyarakat Teluk Wondama mempunyai ritual adat berupa Balengan yaitu menyanyi sambil berjalan pada saat acara hantar mas kawin. Selain itu ada acara Suling Tambur yaitu dipakai saat peyambutan anak baru lahir, dan tamu.

C. Sarana dan Prasarana Ekonomi
Telah dibangun sarana dan prasarana ekonomi di sekitar CAPW antara lain: Pasar, transportasi udara, transportasi darat, dan transportasi laut.

1. Pasar
Pasar yang terdapat di Distrik Wasior merupakan salah satu pasar semi tradisional yang ada di kabupaten Teluk Wondama dan merupakan pasar teramai. Bangunannya sebagaian masih semi permanen karena baru dibangun setelah banjir bandang. Jenis barang yang didagangkan adalah berbagai macam kebutuhan bahan pokok baik hasil hutan, pertanian dan hasil laut.

2. Transportasi Udara
Di Kota Wasior telah ada lapangan terbang dengan konstruksi aspal yang bisa didarati oleh jenis pesawat Twin-Otter dan Cesna. Jadwal penerbangannya sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca.

3. Transportasi Darat
Jalan dengan konstruksi aspal telah dibangun dari Distrik Teluk Duari di utara sampai dengan Distrik Naikere di selatan sejajar dengan panjang kawasan CAPW di sisi barat. Alat transportasi umumnya berupa: angkutan umum, bus sekolah, dan ojeg.

4. Transportasi Laut
Di kota Wasior telah dibangun pelabuhan laut yang sering dilabuhi kapal PT. PELNI seperti: Ngapulu, Dorolonda, Dabonsolo, Labobar. Selain itu ada kapal KM.Graselia milik swasta yang khusus melayani rute Manokwari-Wasior setiap 2 hari sekali.

D. Bentuk dan Pola Interaksi dengan Kawasan CA Pegunungan Wondiboy
Bentuk interaksi dengan kawasan CAPW oleh masyarakat dilakukan yaitu dengan memanfaatkan jenis flora dan fauna tertentu dan kegiatan berkebun di sekitar kawasan. Sedangkan pola pemanfaatannya adalah sebagai berikut:

1. Berladang di sekitar kawasan
Pemukiman penduduk di beberapa distrik disekitar kawasan CAPW berbatasan langsung dengan kawasan. Masyarakat yang bermatapencarian sebagai petani memanfaatkan lahan-lahan di sekitar kawasan untuk bertani lahan kering. Jenis tanaman yang dibudidayakan meliputi: umbi-umbian, buah-buahan dan sayuran.

2. Berburu
Ketergantungan sebagian masyarakat dengan hasil hutan masih tinggi. Berburu selain untuk konsumsi sendiri, sebagian untuk dijual. Selama di lapangan ditemui ada warga masyarakat yang berburu burung cenderawasih yang dilindungi untuk dijadikan opsetan. Satu jenis burung dijual dengan kisaran harga saju jutaan. Jenis-jenis binatang buruan antara lain: rusa, babi, dan beberapa jenis burung.

Gambar 7. Kondisi Sungai Manggurai Pasca Banjir Bandang
3. Pemanfaatan hasil hutan non kayu
Liafrida Tangke Langi & Krisma Lekitoo, telah melakukan penelitian terhadap potensi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di Wosimi daerah kampung Sanderawo Distrik Rasiey yang letaknya di sekitar kawasan CAPW. Hasilnya diperoleh potensi HHBK yang Jenis-jenis HHBK yang diperoleh berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai tanaman hias (Palem, anggrek, Freycinetia, Marantaceae, Zingiberaceae, dan Tapaenochyllus sp), bahan baku industri kerajinan (Rotan dan Bambu), obat-obatan (Myrmecodia sp dan Archangelesia flava), dan dikembangkan sebagai industri pangan lokal buah hitam (Haplolobus spp). Masyarakat di sekitar kawasan CAPW telah memanfaatkan beberapa jenis HHBK seperti: buah hitam, rotan dan bambu, beberapa jenis tanaman obat.

Isak Daud Waropen (2009) menjelaskan bahwa Buah Hitam (Haplolobus spp) yang merupakan tanaman endemik Wondama mempunyai nilai ekonomi dan budaya bagi masyarakat disekitar CAPW. Buah Hitam oleh masyarakat Wondama biasanya dicampur dengan tepung sagu kemudian dibakar dan dihasilkan makanan bernama sagu buah hitam dalam bahasa lokal disebut barian tereu. Selain manfaatnya sebagai bahan tambahan makanan, sagu buah hitam menjadi menu khas yang disajikan khusus pada upacara-upacara ritual seperti: tusuk telingga, bayar mas kawin, dan meminang calon pengantin wanita.

4. MCK dan sumber air bersih
Suplai air bersih di Kabupaten Teluk Wondama berasal hulu sungai yang berada di kawasan CAPW. Masyarakat sebagian masih mandi, mencuci, dan kakus di sungai-sungai yang mengalir dari kawasan. Jaringan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga berasal dari sungai/sumber air di dalam kawasan.

I. Kesimpulan dan Saran

A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat dimabil dari kegiatan inventarisasi/identifikasi desa di dalam sekitar kawasan konservasi CA Peg. Wondama antara lain: 
  1. Dari 13 distrik di Kabupaten Teluk Wondama, ada 5 distrik yang bersinggungan langsung dengan kawasan CA Peg. Wondama, yaitu: Distrik Teluk Duari, Distrik Wasior, Distrik Wondiboy, Distrik Rasiey, dan Distrik Naikere. 
  2. Dari 5 distrik yang bersinggungan langsung dengan kawasan CA Peg. Wondama ada 33 kampung, yaitu: Distrik Teluk Duari (Sobei, Aisandami, Yopenggar, Sobei); Distrik Wasior (Wondama, Manopi, Maniwak, Wasior 1, Wasior 2, Rado, Dotir, Iriati, Moru, Maimare); Distrik Wondiboy (Wondiboy, Isui, Kabouw, Kaibi); Distrik Rasiey (Senderawo, Tandia, Sasirei, Isei, Rasiey, Webi, Uriemi, Torey, Nggatu); dan Distrik Naikere (Sararti, Wosimo, Oya, Yabore, Inyora, Undurara). 
  3. Jumlah penduduk ke-33 kampung tersebut adalah 18.013 jiwa dari yang berasal dari 4.246 rumah tangga dengan prosentasenya laki-laki (55%) dan perempuan (45%).  
  4. Masyarakat memiliki pola dan bentuk-bentuk interaksi dengan kawasan seperti: berburu, berladang disekitar kawasan, memanfaatan hasil hutan non kayu, memanfaatan air dari dalam kawasan sebagai sumber air bersih dan MCK, dan menjaga nilai nilai kearifan lokal berupa larangan merusak/mengotori hulu sungai. 
  5. Untuk menunjang perkonomian penduduk di sekitar kawasan pemerintah Kab. Teluk Wondama telah membangun sarana prasarana berupa: pasar, transportasi darat, laut, dan udara.
B. Saran
Adapun beberapa hal yang dapat disarankan dalah sebagai berikut: 
  1. Pengelolaan kawasan konservasi harus melibatkan peran serta dari penduduk di sekitar kawasan. 
  2. Pemanfaatan hasil hutan nonkayu oleh penduduk di sekitar kawasan harus didorong sebagai alternatif mata pencaharian. 
  3. Upaya penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat harus lebih ditingkatkan seiring dengan semakin berkembangnya penduduk di sekitar kawasan CA Peg. Teluk Wondama.
Daftar Pustaka
    • Liafrida Tangke Langi & Krisma Lekitoo. EKSPLORASI JENIS-JENIS TUMBUHAN HHBK DI WOSIMI, TELUK WONDAMA. Prosiding Expose Hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan Manokwari. 
    • Isak Daud Waropen. 2009. Pemanfaatan Buah Hitam (Haplolobus cf megacarpus) Sebagai Bahan Makanan Tradisonal oleh Masyarakat Kampung Rado Distrik Wasior Kota Kabupaten Teluk Wondama. Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua Manokwari. 
    • Anonimous. 2010. Kabupaten Teluk Wondama Dalam Angka 2010. Badan Pusat Statistik Kabupaten Teluk Wondama. 

    Oleh : Eko Bambang Supriyadi, Eko Yuwono, Brian S.I. Korowotjeng, Norman Jaya, Fredrik Naa

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar