Selamat Datang di Buletin Konservasi Kepala Burung (Bird's Head) Blog "sebuah Blog yang berisi artikel-artikel seputar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dan merupakan media informasi, komunikasi, sosialisasi antar sesama rimbawan dalam menegakkan panji-panji Konservasi..."
Bagi Bapak/Ibu/Sdr/Sdri/Rekan-Rekan Sekalian yang ingin menyampaikan artikelnya seputar Konservasi atau ingin ditampilkan pada Blog ini, dapat mengirim artikel tersebut ke Email Tim Redaksi Buletin : buletinkepalaburung@gmail.com atau ke Operator atas nama Dony Yansyah : dony.yansyah@gmail.com

Kamis, 08 Maret 2012

Ambang Kepunahan Cenderawasih Botak (Cicinnurus respublica) di Kabupaten Raja Ampat-Edisi 10 2011




Kabupaten Raja Ampat terletak di Propinsi Papua Barat memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah baik kekayaan yang terbarukan atau yang dikenal dengan keanekaragaman hayati ataupun kekayaan yang tidak terbarukan. Kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi di marine and teresterial ini, sehingga Raja Ampat sering terkenal, sebagai daerah Destinasi Wisata baik dalam negeri bahkan ke manca negara.


Burung Cendrawasih (Bird of Paradise) adalah salah satu spesies fauna endemik yang sangat populer asal tanah Papua. Begitu terkenalnya sehingga namanya sering dipakai untuk menamai berbagai tempat dan aktifitas di provinsi tertimur ini. Dari 27 jenis yang terdapat di tanah Papua 6 Jenis jenis burung Cendrawasih yang mendiami “Surga” hutan dataran rendah di Kabupaten Raja Ampat antara lain : Burung Cendrwasih Botak (Cicinnurus respublica), Cendrawasih Raja (Cicinnurus regius), Cendrawasih Merah (Paradisaea rubra), Cendrawasih Kuning-kecil (Paradisaea minor pulchra), Cendrawasih Belah-rotan (Cicinnurus magnificus) dan Cendrawasih 12 Antena (Seleucidis melanolevca). 


Ancaman terhadap kepunahan populasi ini merupakan hal yang serius dan harus menjadi perhatian Pemerintah Daerah terutama terhadap tindakan pemanfaatan untuk kesenangan maupun tujuan secara ilegal, tetapi hal terpenting adalah masalah kerusakan habitatnya, sehingga proses penangkapannya telah di larang sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Eksosistemnya dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Dampak kekuatiran atas kegiatan manusia yang tidak ramah lingkungan terhadap pemanfaatan dan kerusakan habitatnya akan mengakibatkan kemunduran populasi yang berakibat kepunahan spesies yang panjang.


Spesies burung Cendrwasih Botak (Cicinnurus respublica) merupakan jenis burung endemik yang keberadaanya hanya di Pulau Waigeo sehingga memiliki daerah penyebaran yang sangat terbatas, sehingga perubahan kecil pada daerah tersebut dapat merupakan ancaman dan gangguan yang serius bagi burung tersebut. Secara umum spesies burung dibatasi dari daerah penyebarannya secara ekologi maupun ketinggian tempat (altitude), sehingga perubahan yang terjadi di daerah dataran rendah dapat mengakibatkan kehidupan dan kelestarian populasi burung semakin terancam, terutama pada jenis-jenis spesies tertentu. Informasi habitat dan potensi populasi merupakan hal yang penting untuk diketahui secara ilmiah, khususnya di daerah pulau Waigeo dan sekitarnya, sehingga kelestariannya akan tetap terjaga. Bertolak dari uaraian diatas, kekuatiran terhadap ancaman kehidupan dan kelestarian satwa spesies burung Cendrwasih Botak (Cicinnurus respublica) termasuk jenis yang dilindungi, menjadi suatu permasalahan yang perlu diungkapkan informasinya, baik terhadap pertumbuhan populasinya di alam maupun wilayah penyebaranya (habitatnya).


Bertolak dari permasalahan diatas kami telah melakukan survey pada bulan Aril s/d Mei 2010 di beberapa lokasi di Pulau Waigeo dan sekitarnya yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar tingkat populasinya, habitat dan wilayah penyebarannya dengan mengunakan metode diskriptif atau teknik survey lapangan. Parameter habitat yang diamati adalah komposisi vegetasi yang digunakan sebagai tempat untuk melakukan aktifitas hariannya (main, makan). Pengamatan dilakukan pada areal seluas 100 Ha untuk masing-masing wilayah dengan perincian panjang 1 km dan lebar 1 km. Pengambilan areal contoh didasarkan atas pertimbangan daerah jelajah (home range). Metode analisa vegetasi yang digunakan adalah metode kuadran (Muller Dombois dan Ellenberg, 1974; Soerianegara, 1976), dimana dari areal seluas 100 ha dibuat jalur memotong kontur dengan panjang 1 km sebanyak 5 buah. Jarak antara jalur adalah 200 m sedangkan jalur antara titik pusat kuadran adalah 25 m. 


Kerapatan Populasi diamati dengan menggunakan metode concentration count (Anonimous, 1977; Wiriosupartho, dkk, 1986) yaitu menghitung populasi yang tersebar merata dalam home range untuk masing-masing wilayah pengamatan. Pengumpulan data habitat dilakukan melalui pencatatan jenis dan jumlah untuk masing-masing vegetasi menurut Wyatt-Smith, (1963) dalam Soeranigara, (1976). Data populasi yang dikumpulkan hanya terbatas pada jumlah burung yang terlihat 14 hari berturut-turut. Waktu pengamatan disesuaikan dengan waktu aktifitasnya burung yaitu mulai pukul 06.00  11.00 WIT s/d 15.00  18.00 WIT dengan melakukan pencatatan di lokasi sarangnya terhadap burung yang terlihat, meliputi : aktifitasnya, jam tiba dan pergi dari pohon tersebut, arah dari mana burung tersebut datang, aktifitas selama burung di pohon tersebut.


Tempat bermain Cendrawasih Botak


Berdasarkan hasil pencacahan inventarisasi komposisi jenis vegetasi mulai dari tingkat semai, pancang, tiang sampai pohon di areal pengamatan, terdapat 42 jenis yang tergabung dalam 26 family. Dari 42 jenis yang ada, 25 jenis diantaranya terdapat lengkap pada ke empat stadia pengamatan. Tingkat pertumbuhan masyarakat tumbuh-tumbuhan pada lokasi pengamatan di Kampung Saporkren, Waiwo dan sekitarnya mengalami kemunduran potensi vegetasi akibat terjadi kegiatan pembalakan liar (penebangan liar) oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Penebangan yang terjadi kondisinya sangat memprihatinkan, dimana sebagian besar pada jenis-jenis pohon tertentu dengan diameter > 25 cm seperti Instia sp, Pometia pinnata, Homalium sp hampir sebagian besar sudah di tebang dengan tujuan dikomersilkan. Kondisi sisa-sisa hasil penebangan memperlihatkan panorama kerusakan hutan yang sudah tidak terkendali, disamping pada daerah ini berdasarkan hasil survey, mengindikasikan merupakan tempat hidup (habitat) dari burung Cendrwasih Botak (Cicinnurus respublica). Apabila kondisi ini terus berjalan tanpa adanya langkah-langkah kebijakan pemerintah, maka dikhwatirkan spesies ini akan mengalami keterancaman dan kepunahan. 


Jumlah  frekuensi kehadiran populasi burung Cendrawasih Botak (Cicinnurus respublica) pada lokasi pengamatan adalah (10.42 %) yang menjumpai sarangnya selama waktu efekif pengamatan. Rekapitulasi hasil pengamatan terhadap populasi burung Cendrawasih Botak (Cicinnurus respublica) pada dua lokasi pengamatan, menunjukan bahwa pertumbuhan populasinya sangat terbatas di alam. Terdapat 7 lokasi sarang (habitatnya) dengan frekuensi kehadiran populasinya di jumpai terbanyak yaitu pada pengamatan hari pertama yaitu berjumlah 9  ekor atau (3.87 %) dari ke tiga lokasi sarang untuk lokasi I (Bandara Udara-Waiwo). Sedangkan untuk lokasi II (Jalan Trans Waigeo-doumbrap Kampung Saporkren Gunung), frekuensi kehadiran populasinya di jumpai terbanyak yaitu pada pengamatan hari ketiga dan hari ke lima yaitu masing-masing berjumlah 5 ekor atau (1.5 %) dari ke empat lokasi sarang. 


Kehadiran populasi burung Cendrawasih Botak (Cicinnurus respublica) pada pengamatan, apabila direpresentasikan potensinya secara kuantitas, maka frekuensi kehadirannya tersisa 15 ekor baik jenis jantan maupun betina.  Sehinga dapat dikatakan bahwa keterbatasan jumlah spesies di alam akan memasuki ambang kepunahan. Kondisi kerusakan hutan pada lokasi pengamatan, akan sangat mempengaruhi pertumbuhan populasi burung Cendrawasih Botak (Cicinnurus respublica), disebabkan disamping sebagai tempat hidup, lokasi ini merupakan sumber pakan alami dan habitat utama. Dikhawatirkan apabila tidak ada keseriusan untuk penanganan dampak kerusakan hutan ini, maka spesies ini akan terancam punah (hilang) di alam.


Penebangan liar yang tidak terkontrol dapat mengancam habitat Cenderawasih Botak


Dari hasil survey yang telah kami lakukan, beberapa rekomendasi berikut dapat dijadikan acuan bagi upaya-upaya pengambilan kebijakan konservasi ex situ populasi burung Cendrawasih Botak (Cicinnurus respublica) maupun jenis Cendrawasih  lainnya, antara lain :

  1. Melakukan upaya konservasi jenis terhadap semua populasi burung Cendrawasih dengan mempertimbangkan frekuensi keterbatasan populasinya di alam, melalui kegiatan Penangkaran Taman Burung Cendrawasih (Birds Garden Paradise) bertujuan mengembangan potensi ekowisata, peningkatan populasi serta  sarana pendidikan dan penelitian.
  2. Melindungi habitat-habitat (sarang) yang telah terpetakan (ditemukan), mengingat secara kuantitas hanya terdapat pada beberapa lokasi di Pulau Waigeo.
  3. Melarang aktivitas eksploitasi kayu (penebangan liar) dan upaya meredam kegiatan yang mengakibatkan kerusakan hutan dan mengancam keberadaan jenis ini, khususnya pada habitat utamanya.
  4. Melakukan upaya perlindungan dan pengamanan untuk mengurangi ancaman terhadap semua populasi burung Cendrawasih Botak maupun jenis Cendrawasih  lainnya.
  5. Sosialisasi dan publikasi serta penyadaran kepada masyarakat tentang pentingnya konservasi jenis burung Cendrawasih bagi ekologi dan kehidupan masyarakat yang akan datang.
  6. Melakukan upaya pemantauan dan pengelolaan jangka panjang bersama pemerintah, masyarakat dan LSM/NGO, terutama dalam hubungannya keberadaan semua potensi burung cendrawasih. 
Oleh : Danny H. Pattipeilohy, S.P., M.Si.


1 komentar: