Selamat Datang di Buletin Konservasi Kepala Burung (Bird's Head) Blog "sebuah Blog yang berisi artikel-artikel seputar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dan merupakan media informasi, komunikasi, sosialisasi antar sesama rimbawan dalam menegakkan panji-panji Konservasi..."
Bagi Bapak/Ibu/Sdr/Sdri/Rekan-Rekan Sekalian yang ingin menyampaikan artikelnya seputar Konservasi atau ingin ditampilkan pada Blog ini, dapat mengirim artikel tersebut ke Email Tim Redaksi Buletin : buletinkepalaburung@gmail.com atau ke Operator atas nama Dony Yansyah : dony.yansyah@gmail.com

Minggu, 20 Februari 2011

BURUNG GAGAK (Hewan Paling Cerdas) (Edisi 7 2010)

Burung Gagak adalah anggota burung pengicau (Passeriformes) yang termasuk dalam marga Corvus, suku Corvidae. Hampir semua jenis burung ini berukuran relatif besar dan berwarna bulu dominan hitam. Daerah sebarannya ada di seluruh benua dan kepulauan, dengan perkecualian di Amerika Selatan.

Kerajaan
:
Filum
:
Kelas
:
Ordo
:
Famili
:
Genus
:
Corvus Linnaeus, 1758
Secara umum burung ini masih mudah ditemui, dan berdasarkan PP nomor 7 tahun 1998, janis gagak belum masuk dalam daftar satwa yang dilindungi di Indonesia. Namun demikian ada beberapa jenis yang telah masuk daftar rentan dari kepunahan, yaitu Gagak Banggai (Corvus unicolor) yang teridentifikasi di pulau Banggai, Timur Sulawesi dan Gagak Flores (Corvus florensis) yang merupakan burung endemik Flores.
Di beberapa kebudayaan dan mitologi, burung gagak kerap dikaitkan dengan sesuatu yang buruk. Di Eropa, gagak dipercaya sebagai burung peliharaan penyihir. Di Indonesia, gagak di hutan dianggap dapat menjadi pertanda kesulitan yang bakal timbul. Ada pula kepercayaan yang mengaitkan sate gagak untuk memanggil genderuwa. Bahkan di dalam Al qur’an, disebutkan bahwa Allah dengan perantara gagak telah mangajari Qobil (anak Nabi Adam) yang membunuh saudaranya untuk mengubur mayat.
Di antara jenis-jenis unggas, gagak diketahui mempunyai tingkat kecerdasan yang relatif tinggi. Kualitas ini sudah sejak lama diketahui manusia, khususnya dalam keterampilannya mencuri berbagai alat bantu manusia. Hewan ini mempunyai kemampuan belajar dan dapat memecahkan permasalahan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitarnya.
Penelitian terbaru menunjukkan kandidat tak terduga dari kategori hewan tercerdas adalah Gagak. Tidak terduga karena pertimbangan terhadap banyaknya budaya yang melekatkan Gagak sebagai pertanda nasib buruk dan kematian (mungkin karena peran tenangnya penguburan dalam cerita di atas?), yang ternyata hewan ini justru hewan super cerdas! (Al-Nadi.S. 2010).
Majalah American Scientific mempublikasikan hasil penelitian para ilmuwan, Bernd Heinrich dan Thomas Bugnyar-Vermont University, Kanada dan St Andrews University, Skotlandia - yang menunjukkan kemampuan mental yang luar biasa dari gagak. "Burung ini menggunakan logika untuk memecahkan masalah dan beberapa kemampuan mereka bahkan melampaui dari kera besar," kata mereka.
Dalam percobaan ini, gagak diberi tugas yang sangat kompleks yang mereka belum pernah dapati sebelumnya dan naluri mereka tidak diprogram untuk melakukannya secara alami, namun mereka selalu berhasil mencari kreatifitas dan solusi logis untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Yang lebih mengejutkan lagi, mereka melakukannya dengan benar pertama kali, setiap kali, tanpa proses trial and error apapun!
Percobaan menunjukkan bahwa gagak mampu untuk menguji setiap kemungkinan yang ada dalam pikiran mereka dalam waktu singkat, pilih solusi yang paling efektif, dan menerapkannya dengan benar saat pertama kali mereka mencobanya, sungguh makhluk paling cerdas, tidak ada yang bisa menandinginya.
Beberapa percobaan menunjukkan bahwa burung gagak yang licik bisa membuat binatang lain bekerja untuk mereka, membuat hewan lain mencarikan makanan untuk mereka atau minimalnya mempermudah mereka. Pada percobaan pertama, Gagak sukses mengambil makanan didalam tabung dengan menggunakan semacam kawat seperti kail. Dalam percobaan lain, di mana makanan mengapung diatas air dalam tabung panjang, langkah pertama yang dilakukan gagak adalah menjatuhkan kerikil kecil dalam tabung yang diperlukan untuk meningkatkan ketinggian air yang cukup bagi paruhnya untuk mencapai makanan.
Melihat video dari percobaan di atas, Sahar Al-Nadi memutuskan untuk mencoba eksperimen kecil pada manusia: Sahar Al-Nadi memainkan video di mana gagak yang menggunakan batu kerikil kepada sejumlah orang dari usia yang berbeda kemudian bertanya kepada mereka apa yang akan mereka lakukan jika mereka berada di tempatnya? jawaban dengan suara bulat "Air ditumpahkan, dan ambil makanan" Ketika mereka melihat bahwa Gagak tidak mengambil makanan dengan cara menumpahkan air, mereka pun terkagum namun disertai pula dengan sikap merendahkan memastikan bahwa mendapat makanan tanpa mengganggu atau merusak lingkungan di mana menemukannya, sebuah pelajaran berharga bahwa manusia perlu belajar banyak.
Gagak juga mampu bekerja sama untuk menjebak dan membunuh mangsa: dua dari gagak akan terbang ke tanah untuk memblokir rute melarikan diri, sementara yang lain menyerang mangsa. Perilaku ini menunjukkan bahwa mereka saling mengerti satu sama lain dan apa yang ada pada benak si mangsa. Gagak bahkan akan bekerjasama untuk memecahkan masalah yang ditetapkan untuk mereka selama eksperimen, dan akan mengenali diri mereka sendiri ketika mereka melihat ke dalam cermin.
Bukti lain kecerdasan yang tinggi dari Gagak adalah bahwa mereka bisa beradaptasi dengan daerah yang sangat berbeda, dari padang pasir ke pegunungan. Mereka belajar untuk menemukan makanan bahkan dalam kondisi paling keras, dan mereka tahu bagaimana dan kapan harus menggunakan hewan lain untuk membantu mereka mendapatkan makanan yang mereka tidak bisa mendapatkannya sendiri. "Gagak adalah kognitif sama dengan seorang anak dua tahun," kata ahli biologi Thomas Bugnyar.
Gagak adalah spesies yang sangat sosial dan hidup dalam kelompok keluarga besar, namun beberapa perkelahian mereka dalam sebuah keluarga biasanya tidak lama dan hanya terjadi dengan beberapa patukan saja, mereka hanya akan bertempur sampai mati dengan musuh yang membahayakan keluarga mereka. Bandingkan dengan perilaku anak Adam yang membunuh saudaranya sendiri!
Quran membuka pintu besar untuk pembelajaran dengan menunjukkan gagak sebagai mentor untuk manusia. Gagak tampaknya menjadi guru yang baik dalam berpikir logis, pemecahan masalah secara kreatif, kerja tim, perencanaan strategis, dan manajemen sumber daya yang efektif - dengan tetap menunjukkan rasa hormat terhadap lingkungan. Jadi, mungkin ini adalah waktu yang tepat bagi kita untuk belajar dari makhluk-makhluk cerdas, seperti yang kita lihat, kita membutuhkan kekuatan berpikir mereka untuk membawa kita kembali ke tujuan utama kita sebagai khalifah di Bumi.

Diperoleh dari:
 "http://id.wikipedia.org/wiki/Gagak" Kategori: Burung

Sabtu, 19 Februari 2011

Teknik Inokulasi Gaharu (Edisi 7 2010)

Gaharu merupakan salah satu komoditi hasil hutan bukan kayu dengan produk gubalnya yang mengandung damar wangi (aromatic resin). Gaharu telah lama diperdagangkan sebagai komoditi elit utnuk keperluan industri. Pohon penghasil gaharu termasuk pohon yang jenis kayunya jelek, tidak dapat dipakai untuk keperluan bahan bangunan atau untuk membuat peralatan lainnya karena sifatnya yang cepat lapuk. Namun keharuman aroma gaharu menjadikannya sebagai komoditi perdagangan penting dalam lingkungan industri parfum, kosmetika, hio, setanggi, dan obat-obatan. Gaharu sebagai obat antara lain sebagai obat penawat racun ular, kalajengking dan obat sakit gigi.

Produk gaharu yang diperdagangkan berasal dari seluruh Indonesia, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Papua. Eksploitasi gaharu yang selama ini dilaksanakan tanpa memperhatikan kaidah kelestarian mengakibatkan populasi pohon gaharu saat ini semakin menurun, bahkan sejak tahun 1995 CITES telah memasukkan gaharu kedalam Appendix II, karena populasinya telah semakin berkurang, bahkan mendekati kategori rentan punah. Oleh karena itu, upaya pengembangan tanaman yang menghasilkan gaharu melalui budidaya sangat dirasakan urgensinya.

Menurut WCMC dan TRP rata-rata kemampuan suplai negara-negara eksportir gaharu adalah sebesar 670 ton/tahun. Jumlah ekspor diatas cenderung menurun setiap tahunnya. Sebagai contoh, Indonesia merupakan eksportir gaharu alam terbesar dengan angka 300 ton/tahun, sejak tahun 1998 kemampuan ekspor Indonesia hanya mencapai angka 30 ton/tahun. Hal diatas akibat masih rendahnya usaha budidaya gaharu dan menurunnya populasi gaharu akibat overexploitasi.

Dengan dilakukan inokoulasi gaharu diharapkan dapat tercapailah tujuan-tujuan berikut:
  1. Meningkatkan Pendapatan masyarakat. Lahan-lahan tidur yang dimiliki oleh masyarakat dapat dimanfaatkan untuk budidaya gaharu, sekaligus untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan melalui komoditi gaharu.
  2. Melestarikan Jenis-jenis tanaman penghasil gaharu.
  3. Membuka Lapangan Kerja Baru.
  4. Memenuhi kebutuhan pasar gaharu, baik pasar domestik maupun kebutuhan ekspor.

Berikut adalah teknologi Inokulasi yang dikembangkan oleh Kelompok 88 :
1. Teknologi Inokulasi

  • Inokulan

Inokulan yang dikembangkan oleh Kelompok Gaharu 88 adalah inokulan yang idealnya dapat merangsang terakumulasinya aromatic resin disekitar lubang bor dan menjamin tidak terjadinya pembusukan/pelapukan kayu pada lubang bor. 
Hingga saat ini pengembangan dan penelitian pembuatan Inokulan masih terus berjalan. Hal ini dimaksudkan untuk lebih meningkatkan kecepatan pembentukan gubal dan kualitas gubal yang dihasilkan. 
  • Penginokulasian

Tahapan-tahapan dalam penginokulasian gaharu adalah sebagai berikut : 
- Persiapan peralatan inokulasi seperti bor listrik, genset, sabuk pengaman dan peralatan lainnya. 
- Pembersihan areal sekita pohon gaharu. Areal dekitar pohon gaharu harus bersih sehingga memudahkan pelaksana inokulasi dalam menjalankan tugasnya.
- Pengeboran pohon untuk lubang baut panjatan. Jarak dan arah lubang tergantung dari jangkauan dan kebiasaan masing-masing pelaksana inokulasi (D = 1,3 cm).
- Pengeboran pohon untuk lubang inokulan. Untuk meminimalkan pengurangan kekuatan pohon akibat pengeboran, rangkaian lubang bor dibuat berpola spiral dengan kemiringan 45º. Jarak antar lubang ±4 cm dan jarak vertikalnya ±21 cm.  Pada penginokulasian tahap II & III lubang bor dibuat ±3 cm diatas lubang sebelumnya dengan jarak horizontal ±1 cm.
- Pemasukan Inokulan. Pemasukan inokulan dapat mengunakan berbagai cara tergantung dari jenis inokulanya. Untuk inokulan cair dapat digunakan spoit, sedangkan inokulan padat bisa menggunakan sejenis talang dan pendorong  atau langsung menggunakan tangan. 
- Penutupan lubang inokulasi. Setelah inokulan dimasukkan lubang bor sebaiknya segera ditutup dengan lilin agar kontaminan yang merugikan dan air tidak masuk ke dalam lubang inokulasi.
- Pengupasan kulit. Untuk membatasi pertumbuhan pohon kearah samping sekaligus meningkatkan massajenis kayu (D= konstan, ρ = meningkat) dilakukan pengupasan kulit pohon sampai batas cabang.
- Pemangkasan Cabang. Untuk mengurangi tekanan angin perlu dilakukan pemangkasan cabang pohon gaharu yg telah diinokulasi.

2. Pemeliharaan dan Pemupukan
Pemupukan perlu dilakukan terutama di lahan yang kesuburannya rendah. Pemberian pupuk dapat dilakukan dua kali dalam setahun, dengan ukuran 5  kg pupuk per-pohon. Pembersihan areal penanaman juga perlu dilakukan guna menghindari tumbuhnya gulma (tumbuhan pengganggu) khususnya pada musim hujan atau 4 kali dalam setahun.

3. Panen dan Pasca Panen
Produksi gubal gaharu akan terbentuk setelah perlakuan berjalan 2 bulan. Hal ini dimulai dengan berubahnya warna kayu sekitar penyuntikan menjadi cokelat dan bertekstur keras serta berbau wangi. Pemanenan dapat dilakukan mulai dari 1 tahun setelah penginokulasian dengan cara menebang pohon. Kualitas gubal gaharu yang dihasilkan  berbanding lurus dengan tingkat kesuburan pohon dan lamanya penginokulasian. Semakin lama penginokulasian maka semakin tinggi kualitas gubal gaharu yang dihasilkan. Potongan-potongan gubal gaharu dibersihkan dari bagian kayu yang tidak terbentuk menjadi gubal. Pembersihan kayu putih dari gubal memerlukan tenaga kerja yang memiliki keterampilan khusus, sehingga tidak menurunkan kelas gubal akibat kurang terampilnya tenaga kerja.  Kemudian dilakukan penyortiran berdasarkan kelasnya (Super, AB, BC, C1 dan C2). Untuk mengurangi kadar air, potongan gubal gaharu dikeringkan dengan cara menjemur di bawah sinar matahari. Untuk gaharu kelas kemedangan selain dapat dipasarkan langsung dapat pula didistilasi untuk diambil minyaknya. 

Sumber :
  • Anonim. 2006. Power Point  Teknologi Inokulasi Gaharu Alam Kerjasama Universitas Bengkulu Dengan Kelompok Gaharu 88 Bengkulu. Disampaikan dalam rangka Workshop Gaharu Tingkat Nasional Tanggal 11  13 September 2006 di Surabaya.
  • Anonim. 2006. Teknik Inokulasi Dan Produksi  Tegakan Gaharu Alam. Makalah Work Shop. Disampaikan dalam rangka Workshop Gaharu Tingkat Nasional Tanggal 11  13 September 2006 di Surabaya.